Jumat, 12 Maret 2010

KRISTUS DAN KEKRISTENAN

Oleh: Warisman Harefa

Latar Belakang
Hubungan Kristus dengan kekristenan, pada prinsip dasarnya membahas persatuan legal dan organis di dalam Kristus. Secara legal, persatuan ini terjadi dalam musyawarah Allah Tritunggal bahwa Pribadi Kedua secara sukarela menjadi Jaminan bagi umat pilihan untuk menebus mereka dari hukuman dosa dengan jalan Kristus mengenakan natur manusia dan taat kepada Bapa (I Pet 1:20). Dalam kesepakatan ini, Kristus datang menanggung dosa dan kesalahan manusia dan kebenaran-Nya diperhitungkan kepada manusia yang diwakili-Nya di hadapan Bapa. Persatuan ini hanya dimungkinkan melalui kematian Kristus sebagai korban Pengganti. Dengan demikian, persatuan ini juga sekaligus bersifat organis karena berkat-berkat dari covenant antara Bapa – Anak, yaitu hidup kekal akan mengalir kepada kelompok manusia yang diwakili Kristus. Perjanjian antara Bapa – Anak berisi syarat dan berkat, sama seperti perjanjian antara Allah dan Adam di Taman Eden. Anak harus taat kepada Bapa dan berkatnya adalah hidup kekal bagi mereka yang percaya kepada Anak. Dalam perjanjian ini Kristus datang menjadi Adam kedua. Ia sama seperti Adam yang mewakili umat pilihan untuk menebus mereka. Kristus dan umat pilihan-Nya bukan saja hanya terikat secara hukum di hadapan Allah tetapi juga terikat secara organis karena umat yang diwakili-Nya akan memiliki hidup yang mengalir dari Kristus sebagai kepala perjanjian. Paulus menjelaskan hal ini, ” Sebab, jika oleh dosa satu orang, maut telah berkuasa oleh satu orang itu, maka lebih benar lagi mereka, yang telah menerima kelimpahan kasih karunia dan anugerah kebenaran, akan hidup dan berkuasa oleh karena satu orang itu, yaitu Yesus Kristus. Sebab itu, sama seperti oleh satu pelanggaran semua orang beroleh penghukuman, demikian pula oleh satu perbuatan kebenaran semua orang beroleh pembenaran untuk hidup” (Roma 5:17-18).
Menjelaskan persatuan antara Kristus dan orang percaya, Herman Ridderbos dalam karyanya Paulus: Pemikiran Utama Theologinya menuliskan, ”Di perikop ini Paulus menjelaskan bahwa mereka yang yang diperdamaikan dengan Allah oleh kematian Kristus, akan hidup pula bersama Dia di masa mendatang. Menurut Paulus, ikatan yang mempersatukan semua keturunan Adam dengan nenek moyang mereka merupakan pola dan gambaran dari persekutuan Kristus dengan milik-Nya. Di sini Paulus tidak memakai rumusan ” di dalam Adam”, tetapi ia menyebut pelanggaran Adam sebagai dosa semua orang.1 Penjelasan Paulus dalam membandingkan Kristus dengan Adam, ia menunjukkan bahwa Kristus sama seperti Adam sebagai pribadi universal atau pribadi korporat, dimana manusia yang diwakilinya mengambil bagian di dalam-Nya. Karena manusia yang diwakilinya berbagian di dalam Kristus maupun di dalam Adam, maka mereka (umat yang diwakili) hanya dapat dikenali melalui mereka (Kristus atau Adam).
Mengenal dan memahami hubungan keterkaitan di antara keduanya ini sangat penting, karena adanya disklaim terhadap pemahaman kekristenan. Disklaim yang dimaksud adalah bahwa ada orang-orang Kristen yang mengakui finalitas Kristus dan penebusan-Nya tanpa mengakui finalitas kekristenan.2 Hal ini dipengaruhi oleh sikap hidup dalam toleransi beragama, khususnya dalam masyarakat majemuk. Dengan demikian, kekristenan tidak harus final karena menyakiti perasaan penganut agama lain.
Toleransi beragama yang berlebihan ini akibatnya membawa perbedaan interpretasi mengevaluasi kekristenan. Di dalam dan melalui pendekatan sosio-kultural, memang kekristenan adalah salah satu agama di antara agama-agama lain. Ini dapat berarti bahwa kekristenan adalah organisasi gereja yang kelihatan. Dengan demikian kekristenan dimengerti sebagai tubuh Kristus yang bersubastansi corpus christianum. Pada abad pertengahan ketika kekristenan mendominasi peradaban Barat, Roma Katolik menggunakan istilah kekristenan sebagai institusi eksternal (ecclesia representative) atau penyalur berkat-berkat keselamatan.3 Ini mengakibatkan gereja menjadi pengendali segala kegiatan manusia dengan menempatkan pengantara manusia sebagai imam dan mengabaikan persekutuan antara Tuhan dan anak-anak-Nya secara langsung atau tidak langsung.4 Hal ini dapat diuraikan dengan pentingnya penguasa-penguasa gereja sebagai wakil Yesus Kristus yang adalah kepala gereja. Segala kegiatan adalah kegiatan seluruh tubuh Kristus atau dapat dikatakan corpus christianum. Dari pemahaman kekristenan dalam aspek sosio-kultur maka keunikan kekristenan tidak dipandang lagi sebagai tubuh Kristus yang dicangkokkan dalam karya penebusan Kristus. Tetapi keunikan kekristenan dipahami sebagai realitas unik dalam semesta hubungan yang saling mempengaruhi antar agama, dalam arti kekristenan tidak muncul keterpisahan atau keberbedaan sama sekali dengan yang lain.5
Banyak ahli agama dan sejarah agama mengamati kepelbagaian agama yang tersebar di dunia ini. Agama ini menyentuh setiap pribadi manusia dari berbagai lapisan, mulai dari kelompok masyarakat primitif sampai masyarakat modern dan kaum intelektual. Agama sudah menjadi bagian dari kehidupan manusia yang tidak bisa dipisahkan, maka ditemukan sekian banyak agama yang masing-masing mencari jalannya sendiri dalam mencari dan bersekutu dengan yang ilahi. Pencarian ini adalah untuk menemukan kuasa atau pribadi yang lebih berkuasa dari manusia untuk menolong manusia dari berbagai ketakutan dan mencari kedamaian. Sehingga objek yang dianggap ilahi ini dipikirkan baik secara kelihatan material ataupun secara roh imaterial. Maka, orang-orang Kristen yang menggunakan pendekatan dalam mengevaluasi kekristenan dalam sisi sosio-kultural, melihat kekristenan sebagai salah satu agama dari antara agama-agama yang tampil itu, dengan berbagai aliran dan kelompok organisasi di dalamnya.
Tetapi pada sisi yang lain, jika kekristenan dapat dipahami secara esensinya melalui evaluasi asal-muasal kekristenan maka kekristenan adalah gereja yang tidak kelihatan yaitu komunitas orang-orang percaya yang mengakui Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat. Joseph Tong menjelaskan hakekat kekristenan ini, ”Memandang gereja sebagai badan orang-orang percaya, maka kita akan senantiasa diingatkan bahwa tubuh Kristus, Corpus Christi, imannya yang hidup telah dicangkokkan dalam anugerah keselamatan Kristus, dan tidak akan pernah mati. Biarlah Corpus Christi memapankan diri sebagai saksi hidup bagi Kristus, sampai hari kedatangan-Nya. Sementara, kita telah bekerja keras untuk mencapai puncak pengharapan-Nya bagi tubuh duniawi-Nya, corpus christianum.6 Hakekat kekristenan ini secara sederhana menunjukkan bahwa kekristenan adalah produk karya Allah dalam pewahyuan-Nya. Hal yang penting adalah bahwa kekristenan bukan sekedar pewahyuan umum seperti yang terlihat dalam anugerah umum-Nya. Dalam pengertian tertentu bahwa Allah telah menyatakan diri-Nya kepada setiap orang melalui alam semesta dan hati nurani manusia. Pada batas tertentu orang tidak percaya dan orang percaya memiliki kesamaan dalam hal pengetahuan tentang Allah, yaitu: kontrol, otoritas, dan kehadiran Allah.7 Tetapi kekristenan lahir dari pewahyuan khusus Allah, yaitu asal-muasal kekristenan tertanam dalam Yesus Kristus sebagai penyataan Allah yang final. Pengakuan iman kita kepada-Nya sebagai Allah dan Juruselamat membawa kita terhisap di dalam persatuan dengan-Nya. Inilah sebabnya, kekristenan bukan suatu agama yang berkembang, juga bukan suatu agama yang orientasinya proses. Kita tidak menegaskan pewahyuan progresif, selain memproklamasikan fakta pertumbuhan progresif dari komunitas yang hidup dan ungkapan iman serta prakteknya. Gereja akan bertumbuh, bukannya Kristus dan juga bukan kebenaran Kristus, putra Allah, Juruselamat kita. Terhadap keunikan inilah, kita memproklamasikan finalitas kekristenan bersama-sama dengan finalitas Kristus. Secara bersahaja dan setia pada kebenaran yang meneguhkan iman, di dalam satu-satunya Juruselamat yang telah memanggil kita, menjadi suatu komunitas orang-orang percaya yang dibedakan.8

Keistimewaan Yesus Sebagai Keunikan Kekristenan
Apa keunikan kekristenan sebagai keunggulannya dari agama-agama lain? Unsur manakah yang mempersatukan semua organisasi dari berbagai aliran dalam kekristenan? Jawaban satu-satunya adalah pribadi Yesus Kristus. Menurut Michael Eaton dalam karyanya Jesus Of The Gospels menuliskan, ”Seluruh rahasia kehidupan Kristen adalah pandangan kepada Yesus. Kita memandang pribadi-Nya – Dia adalah Allah dan manusia. Kita memandang karya-Nya – Dia telah hidup bagi kita dan mati bagi kita. Kita memandang pada posisi-Nya saat ini – Dia bangkit bagi kita, ditinggikan bagi kita, berdoa bagi kita.”9 Dalam Kisah Para Rasul 11:26 nama Kristen muncul pertama sekali bagi mereka yang percaya kepada Yesus Kristus, yang disalibkan, mati dan bangkit kembali. Penyebutan ”Kristen” kepada pengikut Kristus pertama kalinya di Antiokhia diberikan oleh orang-orang luar, untuk membedakan mereka dari orang-orang Yahudi di negeri Siria, karena mereka menghubungkan dirinya dengan seseorang yang diberi gelar Kristus.10 Sepertinya ini adalah lumrah berlaku dalam mengidentifikasi kelompok tertentu. misalnya, pengikut John Calvin dinamakan Calvinisme, pengikut Martin Luther dinamakan Lutheranisme, pengikut Buddha dinamakan Budhaisme dan masih banyak lagi. Ini menunjuk kepada nama keyakinan dalam usaha menghubungkan dirinya dengan si pembawa ajaran itu.
Memang setiap agama yang muncul atau aliran kepercayaan dan pengetahuan tidak terlepas dari keterhubungannya dengan tokoh historis tertentu. hal dijelaskan oleh Groenen, ”Agama Yahudi menghubungkan diri dengan Musa sebagai pendirinya dan agama Islam mengaitkan dirinya pada Nabi Mohammad. Begitupun agama Budha menggabungkan diri dengan tokoh itu. Orang Islam tentu saja sangat menghormati Mohammad, dia itulah yang menyampaikan firman Allah yang terakhir. Dengan kelakuannya beliau menafsirkan dan menerangkan firman Allah itu. Orang Yahudi menghormati nabi Musa sebagai nabi paling besar yang menyampaikan hukum Allah. Maka yang paling penting dalam agama Islam dan Yahudi bukanlah Muhammad atau Musa, melainkan firman Allah yang mereka sampaikan dan terangkan. Firman itu termaktub dalam kitab kudus (Qur’an, Taurat), berupa wejangan dan petunjuk. Dengan kematiannya peranan Musa dan Muhammad sudah selesai. Mereka meninggalkan panggung sejarah dan tidak berperanan lagi. Sama seperti orang lain mereka pergi dan tidak akan kembali. Orang Budha pun menjadi penganut ajaran dan wejangan penyelamatan yang disampaikan Guru yang mahabesar itu. Dan agama Hindu, sejauh agama historis, berpusatkan kitab kudus pula”.11
Keterhubungan Kristen kepada Kristus tidak didasarkan pada kitab atau ajaran yang diajarkan Yesus. Kekristenan berpusatkan pada diri Yesus Kristus sebagai Allah dan Juruselamat. Dengan tegas Michael Eaton mengatakan bahwa ”Kekristenan adalah Kristus”.12 Mengidentikkan kekristenan dengan Kristus bukan berarti bahwa Kristen sama dengan Kristus. Tetapi, pernyataan ini menunjukkan bahwa agama Kristen bukan agama buku, bukan juga sebuah filosofi yang sedang mengembara mencari pijaran kebajikan, dan bukan juga sebuah agama yang hanya sekedar membatasi diri pada moralitas, walaupun semuanya itu memang ada dalam kekristenan. Yang lebih penting, bahwa kekristenan adalah berakar, dibangun, di dalam dan melalui Kristus (Kol 2:7). Pernyataan ini semakin menarik dalam pewartaan orang Kristen mula-mula. Pada hari Pentakosta, ketika Petrus berdiri dan mulai memberitakan Injil, ia menutup pemberitaannya dengan mengatakan, ”Jadi seluruh orang Israel harus tahu dengan pasti, bahwa Allah telah membuat Yesus, yang kamu salibkan itu, menjadi Tuhan dan Kristus.
Nama Kristus adalah sebuah gelar atau jabatan dan bukan nama diri. ”Nama Kristus itu merupakan bentuk yang setara dengan nama Maschiach yang dipakai dalam Perjanjian Lama (diambil dari kata Mashach, yang artinya ’mengurapi’) dan dengan demikian nama ini berarti ’Yang diurapi’.”13 J. Verkuyl menguraikan hubungan nama ini dalam karyanya Aku Pertjaja, ”Dalam Alkitab dan dalam gereja Kristen Tuhan Yesus selalu disebut: Kristus. Kristus adalah perkataan Yunani artinya ’yang diurapi’. Dalam bahasa Ibrani disebut Masjiach atau Mesias, Almasih. Apabila gereja menyebut Tuhan Yesus: Sang Kristus maka jabatan Tuhan Yesus yang ditunjukkan. Yesus, itulah namaNya, nama pribadiNya. Kristus itulah nama jabatanNya. Nama jabatan itu menunjukkan tugas atau kewajiban yang telah dan sedang dilakukanNya di surga dan di dunia”.14
Yesus orang Nazaret, yang dikenal dengan seorang tukang kayu yang dibunuh oleh tokoh-tokoh agama Yahudi adalah Kristus atau Mesias. Kedudukan dan peranan Yesus sekarang dalam pemberitaan para rasul merupakan pengharapan yang sedang dinantikan oleh orang Yahudi akan kedatangan seorang Penyelamat. Karena nama Mesias memiliki latar belakang sebagai seorang Penyelamat atau tokoh pembebas yang diharapkan oleh orang Yahudi sebagai wakil Allah untuk pembentukan zaman baru bagi umat-Nya.15
Menurut latar belakang Perjanjian Lama, jabatan Mesias tidak dipakai untuk penyelamat yang akan datang karena Allah sendiri yang akan menyelamatkan umat-Nya.16 Yang diberitakan oleh para nabi adalah kedatangan masa kemesiasan yang membawa masa depan yang cerah bagi umat Allah (Yes 26 – 29, 40; Yeh 40 – 48; Dan 12; Yl 2:28 – 3:21).17 Namun dalam Perjanjian Lama, ada gagasan mengenai pengurapan seseorang untuk misi khusus yang bisa ditujukan kepada imam-imam, raja-raja, nabi-nabi. Orang-orang yang terpanggil memangku jabatan ini diresmikan dengan cara diurapi dengan minyak urap yang mengalir dari kepalanya meliputi badannya.18 Tujuan dari pengurapan ini adalah seseorang itu dipanggil untuk tugas yang istimewa sehingga untuk menjalankannya butuh anugerah Tuhan yang mengisi hidupnya.19 Tetapi para imam, nabi dan raja dalam Perjanjian Lama adalah orang-orang yang cacat dan berdosa sehingga istilah ini mengarah kepada pribadi khusus yang diurapi oleh Allah untuk menyelamatkan umat-Nya, yang datang sebagai nabi, imam dan raja sesungguhnya.20 Dengan melihat kebangkitan Yesus dari antara orang mati, maka murid-murid-Nya menegaskan bahwa Yesus adalah utusan khusus Allah yang diurapi untuk membawa pengharapan bagi umat-Nya. Kebangkitan-Nya tidak lain adalah pelantikan-Nya untuk menggenapkan pengharapan umat Allah akan keselamatan (Kis 3:18-26). Begitu Yesus bangkit dari kematian, suatu pemenuhan janji Allah yang menyatakan bahwa Allah berkarya menyelamatkan manusia hanya melalui Raja Penyelamat itu, yaitu: Yesus Kristus.
Dengan posisi Yesus yang istimewa ini maka seluruh penulis Perjanjian Baru memberitakan bahwa Yesus adalah Allah, penggenapan janji Allah, sehingga seluruh pekerjaan-Nya, pengajaran-Nya semata-mata hanya untuk menunjukkan keilahian-Nya. ”Jadi yang diajarkan bukanlah ajaran Yesus, bukan karya-Nya dahulu, bukan sengsara-Nya, melainkan kedudukan-Nya sekarang”.21

Kesimpulan
Keunikan kekristenan yang merupakan hasil produk Allah sendiri dalam penyataan khusus-Nya, membawa kita pada beberapa kesimpulan dalam memahami kekristenan:
a.Secara organisasi, kekristenan merupakan sebuah agama dari penebusan dan penyucian yang datang kepada manusia yang berdosa, dengan pengampunan dan pembaharuan baru oleh anugerah Allah untuk menyelamatkan dan memberi kekuatan baru oleh Roh Kudus, sebagai hal yang memungkinkan untuk menikmati kehidupan baru di dalam Kristus.
b.Secara ontologi, kekristenan terdiri dari nilai-nilai yang secara intrinsik mengandung kekekalan, membuktikan diri sendiri benar dan bernilai, memeluk kebenaran dan keindahan serta disempurnakan dalam kebaikan yang menuju kesempurnaan.
c.Secara psikologi, kekristenan adalah pengalaman seseorang yang dikuduskan dan ditransformasi oleh Roh Kudus yang membawa pengaruh besar dalam pemikiran melalui pelatihan iman. Sehingga manusia yang dicipta dengan pikiran, perasaan dan kehendak mampu memadukan ketiganya dalam keharmonisan untuk menghasilkan kehidupan yang berlimpah dalam Roh.

Memahami Doktrin Tritunggal

Oleh Muriwali Yanto Matalu

Dalam pembahasan tentang Tritunggal ini, saya menggunakan kembali sedikit bahan saya dalam edisi ke 8 yang menyinggung tentang Tritunggal dalam artikel “Yesus: Tuhan dan Juru Selamat Satu-Satunya.”
Banyak orang membahas Tritunggal ekonomis, yakni membicarakan Tritunggal berdasarkan fungsi dan kaitan-Nya dengan ciptaan dan mengabaikan pembahasan Tritunggal ontologis. Yang dimaksud dengan Tritunggal ontologis adalah Tritunggal di dalam Diri-Nya sendiri. Pembahasan saya di sini lebih menyentuh aspek ontologis dari pada ekonomis.
Orang-orang unitarian1 sangat gigih melakukan perlawanan terhadap kebenaran iman Kristen yang bersifat historis, yakni kepercayaan bahwa Yesus adalah Allah sejati. Dengan menolak kebenaran bahwa Yesus adalah Allah sejati, maka dengan sendirinya mereka menolak Doktrin Allah Tritunggal.
Memang doktrin Allah Tritunggal merupakan doktrin yang sulit dimengerti, bahkan tidak mungkin dimengerti dengan tuntas. Ini yang menjadi alasan mengapa analogi apa pun tidak mungkin bisa menjelaskan Tritunggal. Seperti sudah sering dikatakan bahwa yang terbatas yaitu manusia tidak mungkin bisa memahami Allah yang tidak terbatas secara tuntas.
Dalam bab ini, saya ingin memberikan penjelasan dari fakta Alkitab (wahyu khusus) dan penjelasan secara filosofis (wahyu umum), yang justru membuktikan bahwa Allah adalah mutlak bersifat Tritunggal.
Istilah Tritunggal tidak pernah muncul di dalam Alkitab, tetapi apa yang tidak muncul secara istilah, tidak berarti bahwa itu tidak diajarkan oleh Alkitab. Alkitab sering mengajarkan konsep-konsep kebenaran yang secara istilah tidak ditemukan di dalamnya. Doktrin Tritunggal, masuk di dalam golongan ini. Lalu kita mungkin bertanya, adakah dasar Alkitab yang kuat bagi doktrin ini? Baik di dalam PL maupun PB bertebaran begitu banyak ayat yang mengajarkan konsep Tritunggal. Baik ayat yang secara implisit seperti Kej. 1:26, maupun yang secara eksplisit di dalam Mat.3:16,17.
Kasih sebenarnya sudah mempresaposisikan Allah yang bersifat Tritunggal. Di dalam Alkitab dikatakan bahwa Allah adalah kasih, I Yoh. 4:8. Kasih hanya sempurna jika diwujudkan oleh minimal dua pribadi yang berbeda. Satu pribadi menjadi subyek yang mengasihi dan pribadi yang lainnya menjadi obyek yang dikasihi, demikian sebaliknya. Ketika Allah belum menciptakan alam semesta dan makhluk moralnya yaitu manusia dan malaikat, bagaimana Dia mewujudkan kasih-Nya jika Allah itu hanya satu pribadi? Alkitab berkata bahwa di dalam Diri Allah ada tiga pribadi berbeda yang saling menjadi subyek dan obyek kasih. Jadi, sebelum menciptakan manusia dan malaikat, kasih berada secara sempurna di dalam diri Allah yang bersifat Tritunggal.

Tritunggal dalam PL
Di dalam PL kita memang tidak mendapatkan konsep tentang Allah Tritunggal secara utuh. Tetapi PL sendiri menyaksikan bahwa Allah yang satu itu memiliki pribadi yang jamak. Tidak usah diragukan lagi, bahwa banyaknya ayat-ayat di dalam Perjanjian Lama yang menyatakan kepada kita mengenai Allah yang satu tetapi memiliki pribadi yang jamak atau disebut lebih dari satu pribadi, membuktikan kejamakan pribadi Allah. Ayat-ayat itu misalnya terdapat dalam: Kej. 1:26; 11:7; Kej.19:24; Mal. 3:1; Maz. 45:6,7 (Ibr. 1:8,9); Yes. 48:16; 61:1; 63:9,10.

Tritunggal dalam PB
Di dalam Perjanjian Baru, ajaran mengenai Tritunggal menjadi sangat jelas seperti yang tercatat di dalam Matius 3:16,17. Ini merupakan ayat yang paling jelas mengenai Tritunggal, di mana ketiga Pribadi tampil secara bersamaan. Anak dibaptis oleh Yohanes Pembaptis, Roh Kudus turun dalam rupa merpati, serta Bapa berkata dari sorga, “Inilah Anak-Ku yang kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan.”
Formula baptisan air seperti yang diajarkan Tuhan Yesus dalam Matius 28:19, juga menunjukkan ke-Tritunggalan Allah. Di dalam Alkitab versi New King James dikatakan, “Go Therefore and make disciples of all nations, baptizing them in the name of the Father and of the Son and of the Holy spirit,…”. Formula ini saja sudah menunjukkan dengan jelas bahwa Allah memiliki tiga pribadi yang berbeda. Artikel ‘the’ sangat menjelaskan tentang hal ini. Bukti lain tentang ketritunggalan Allah di dalam PB ialah, Bapa mengirim Putra, Yoh.3:16; Gal. 4:4; Ibr. 1:6; I Yoh. 4:9. Bapa dan Anak mengutus Roh Kudus, Yoh. 14:26; 15:26; 16:7; Gal. 4:6. Anak bersekutu dengan Bapa, Mat. 11:25,26; 26:39; Yoh. 11:41; 12:27,28. Roh Kudus berdoa kepada Allah di dalam hati orang percaya, Rm. 8:26.

Satu esensi dan tiga pribadi
Pernyataan yang standar tentang Allah Tritunggal adalah bahwa kita percaya pada satu Allah yang memiliki satu esensi (hakekat) tetapi di dalam-Nya ada tiga pribadi yang berbeda. Masing-masing pribadi tersebut eksis secara bersama-sama dalam satu esensi yang identik secara kekal.
Mari kita melihat apa yang dimaksud dengan esensi dan pribadi. Esensi adalah natur atau keseluruhan hal yang bersifat substansial atau mendasar, yang menjadikan sesuatu yang bereksistensi itu terlihat apa adanya. Esensi, hakekat atau substansi adalah sifat-sifat dasar yang mutlak ada pada sesuatu obyek. Atau dengan perkataan lain, sesuatu yang mutlak ada pada obyek tertentu yang menjadikan obyek tersebut sebagaimana adanya, itulah hakekat. Agar lebih jelas, saya akan menjelaskan hal ini dengan meminjam penjelasan Ronald Nash mengenai dua jenis properti yaitu properti esensial dan properti non esensial:

...Sebagai contoh, bayangkanlah sebuah bola merah. Warna obyek ini adalah non esensial, dalam arti jika kita mengubah warnanya menjadi kuning atau hijau, obyek itu masih merupakan sebuah bola. Tapi ketika kita membicarakan sebuah bola, properti bulat merupakan properti esensial. Kita tidak dapat memiliki bola yang tidak bulat. Jika kamu mengubah ciri obyek ini, maka ia bukan lagi sebuah bola.
Dengan istilah yang paling sederhana, properti esensial adalah properti yang tidak dapat diubah atau hilang tanpa meniadakan obyek yang bersangkutan dari jenisnya sekarang.2

Mengacu kepada penjelasan ini, maka yang menjadi esensi dari sebuah bola adalah bentuknya yang bulat, sedangkan warnanya tidak esensial bagi bola tersebut, karena jika kita mengubah warnanya, dia tetaplah bola asalkan properti bulat tetap ada padanya. Jadi esensi adalah sifat dasar yang mutlak harus ada yang menjadikan sesuatu obyek terlihat sebagaimana dia ada.
Sekarang mari kita melihat apa yang dimaksud dengan pribadi. Pribadi adalah sesuatu keberadaan yang memiliki pikiran, perasaan dan kehendak, yang menjadikan dia bertanggung jawab secara moral atas diri dan tindakannya. Sebuah pribadi juga memiliki kesadaran (consciousness) dan kesadaran akan diri (self consciousness). Kesadaran suatu pribadi adalah kesadaran diri sebagai subyek dalam kaitan dengan obyek di luar diri. Jadi, diri yang sadar bahwa diri berbeda dari hal-hal yang di luar dirinya, itulah yang disebut sebagai kesadaran. Kesadaran akan diri adalah kesadaran diri sebagai subyek dalam kaitan dengan diri sendiri sebagai obyek. Diri melihat diri, menilai diri, berbicara kepada diri dan sebagainya. Jadi diri adalah subyek sekaligus obyek.
Selanjutnya, bagaimanakah hubungan antara esensi dan pribadi Allah Tritunggal? Shedd berkata bahwa hubungan antara kesatuan esensi dan ketigaan Pribadi Allah adalah sama seperti hubungan antara esensi dan atribut-Nya.3 Ketika dikatakan bahwa ada tiga pribadi di dalam satu esensi, tidak berarti bahwa esensi tersebut adalah hal yang keempat di mana ketiga pribadi berada. Hal ini dihindari dengan pernyataan antitesis bahwa satu esensi tersebut ada secara keseluruhan di dalam masing-masing ketiga pribadi.4

Kesatuan, keragaman & persekutuan dalam Tritunggal
Sekarang saya akan memberikan penjelasan dari wahyu umum (secara filosofis) yang justru meneguhkan kebenaran Allah Tritunggal.
Dalam Diri Allah Tritunggal, prinsip kesatuan dan keragaman (yang mati-matian diselidiki para filsuf) dan persekutuan (yang diusahakan orang Kristen) mendapatkan jawaban yang tuntas. Kesatuan dan keragaman dalam Tritunggal pertama-tama menyangkut kesatuan natur dan keragaman sifat-Nya. Kedua, dalam kesatuan natur dan keragaman pribadi-Nya. Pembahasan ini hanya berkaitan dengan kesatuan natur dan keragaman Pribadi-Nya.
Sebelum kita melihat kesatuan dan keragaman dalam Tritunggal secara khusus, kita terlebih dahulu melihat bahwa prinsip kesatuan dan keragaman merupakan prinsip yang mutlak ada pada Allah maupun ciptaan. Jika kita menekankan kesatuan atau yang ”satu” saja maka itu bukanlah apa-apa. Itu adalah nihil. Sebaliknya, jika kita hanya menekankan keragaman saja, maka itu hanyalah kekacauan atau bahkan nihil.
Saya akan mengemukakan satu contoh untuk hal ini agar menjadi lebih jelas. Sebuah buku memiliki kesatuan dan keragaman di dalam dirinya. Kesatuannya adalah bahwa buku itu adalah satu buku, sedangkan keragamannya adalah bahwa buku itu memiliki kulit, isi, lem dan benang perekatnya, serta tulisan-tulisan di dalamnya. Sekarang mari kita abaikan keragamannya dan hanya menekankan kesatuannya. Yang menjadi keragamannya adalah apa? Kulitnya. Lepaskan dan buanglah kulitnya. Apa lagi? Isinya. Lepaskan dan buanglah isinya. Apa lagi? Lem dan benang perekatnya. Lepaskan dan buanglah itu. Lepaskan dan buang semua yang ada padanya yang merupakan keragamannya. Apakah yang tersisa? Bukankah pada akhirnya kosong? Menekankan kesatuannya saja berarti kosong. Contoh lain untuk hal ini adalah, bayangkanlah bahwa seluruh dunia adalah berwarna putih. Tidak ada warna yang lain kecuali putih. Alam semesta ini berwarna putih dan segala isinya juga putih termasuk manusia dan seluruh tubuh manusia. Apa yang terjadi? Bukankan itu nihil dan tidak berarti apa-apa? Inilah hasilnya jika kita hanya menekankan kesatuan dan membuang keragaman.
Sebaliknya, sekarang mari kita abaikan kesatuan dan kita hanya menekankan keragaman. Kembali kepada contoh buku di atas. Pisahkan kulit dari isinya dan setiap apa yang menjadi keragamannya karena semua itu tidak boleh jadi satu. Bukankah kita sedang membuang kesatuannya? Pisahkan semuanya. Apa yang tersisa? Onggokan kertas, lem, benang dan sebagainya yang berserakan di lantai. Tetapi, kita masih bisa melihat onggokan yang berserakan itu, karena onggokan itu masih memanfaatkan kesatuan. Apa yang menyatukan onggokan berserakan itu? Jawabnya tentu lantai. Sekarang mari kita buang lantainya (jika bisa), dan di manakah sekarang onggokan kertas, lem dan benang itu? Katakanlah, onggokan itu melayang-layang di udara. Tetapi onggokan itu masih melayang-layang, oleh karena ada udara yang menjadi pemersatunya sehingga onggokan itu masih kelihatan melayang-layang. Di sini kesatuan belum sama sekali dihilangkan. Sekarang katakanlah bahwa tidak ada udara dan tidak ada hal lain apa pun lagi yang menjadi wadah yang menyatukan onggokan tadi. Apakah yang tersisa? Bukankah pada akhirnya juga nihil?
Jadi, dari contoh ini kita sekarang tahu bahwa kesatuan dan keragaman yang eksis secara bersama-sama adalah mutlak bagi sebuah substansi yang bereksistensi. Tanpa unsur kesatuan dan keragaman maka semuanya kosong atau nihil.
Menarik sekali bahwa filsuf mula-mula Yunani mencari hakekat atau substansi dari alam semesta ini. Thales berkata bahwa unsur utama adalah air. Dalam hal ini Thales mencari kesatuan dari keragaman yang dilihatnya di dalam alam. Heraklitus berkata bahwa segala sesuatu berubah kecuali perubahan itu sendiri. Dia menekankan keragaman. Sedangkan Parmenidas berkata bahwa apa pun yang ada itu pasti ada, dengan demikian dia menyangkal perubahan. Dia menekankan kesatuan. Filsafat Modern mencari kesatuan atau makna tunggal dari keragaman, sedangkan filsafat Postmodern menekankan keragaman di atas kesatuan. Di dalam Allah Tritunggal, kesatuan dan keragaman yang digumulkan filsafat mendapatkan jawabannya secara tuntas.
Prinsip penting mengenai kesatuan dan keragaman dalam diri Allah, tercermin dalam segala hal di alam semesta ini. Sebuah pohon misalnya memiliki akar, batang, cabang, carang dan daun serta buah. Tetapi walaupun terdiri dari kepelbagaian, di dalamnya ada satu kesatuan yang utuh. Sebuah rumah, sebuah lembaga, sistim tata surya kita atau apa saja yang ada dalam dunia ini, bahkan apa yang dicari oleh para filsuf dalam filsafat pasti mencerminkan prinsip kesatuan dan keragaman.
Relasi antara kesatuan dan keragaman dalam alam semesta ini bisa bersifat organik atau memiliki relasi yang hidup, bisa juga berupa relasi struktural atau bersifat mekanis. Tetapi faktanya adalah bahwa semua mencerminkan prinsip kesatuan dan keragaman. Dan fakta ini bagi saya, meneguhkan keyakinan saya akan doktrin Tritunggal, bahwa Allah sungguh-sungguh adalah Tritunggal karena ke-Tritunggalan-Nya direfleksikan oleh seluruh bagian dari alam semesta ini.

Catatan:
Mengatakan bahwa kesatuan dan keragaman Allah direfleksikan oleh seluruh alam semesta ini tidak sama dengan mengatakan bahwa kesatuan dan keragaman dari Tritunggal sama dengan apa yang ada dalam alam semesta. Perbedaan hal ini jelas. Di dalam Tritunggal, jika kita mengacu kepada salah satu saja keragaman-Nya, misalnya jika kita mengacu kepada Bapa saja, maka Bapa saja adalah keseluruhan Allah sepenuhnya. Begitu juga jika kita hanya mengacu kepada Anak, atau Roh Kudus saja. Tidak demikian dengan kesatuan dan keragaman alam semesta ini. Salah satu keragaman atau bagiannya, tidaklah mewakili seluruhnya. Misalnya, akar sebuah pohon bukanlah pohon itu secara keseluruhan. Yang saya ingin tekankan di sini hanyalah prinsip kesatuan dan keragaman (unity and diversity) yang terdapat di seluruh alam semesta ini, yang merefleksikan kesatuan dan keragaman dalam diri Allah Tritunggal.

Dari keragaman pribadi Tritunggal yang berada dalam satu kesatuan inilah terdapat satu persekutuan yang hidup, di mana masing-masing Pribadi saling bersekutu, saling berkomunikasi dan saling mengasihi satu dengan yang lainnya.
Keragaman Pribadi Tritunggal hanya tiga, tidak lebih dan tidak kurang. Hal ini disebabkan oleh karena sebuah persekutuan mutlak hanya memunculkan tiga pihak. Persekutuan kasih misalnya, bisa saja diwujudkan oleh hanya dua pihak, misalnya saya mengasihi isteri saya atau sebaliknya isteri saya mengasihi saya. Saya menjadi subyek dan isteri saya menjadi obyek atau sebaliknya. Tetapi relasi kasih yang hanya terdiri dari dua pihak ini belum sempurna, karena membutuhkan pihak ketiga yang mengamati, menyaksikan dan turut bersukacita atas hubungan kami. Pihak ketiga tersebut bisa teman-teman, keluarga, rekan pelayan dan sebagainya. Siapapun yang bukan saya dan bukan isteri saya, mereka semuanya digolongkan sebagai pihak ketiga. Di sini kita melihat dengan jelas bahwa persekutuan itu bersifat ketigaan (trinal).
Itu sebabnya angka tiga merupakan angka persekuatuan (fellowship) dan inilah yang menjadi alasan mengapa keragaman Pribadi Tritunggal hanya tiga, tidak kurang dan tidak lebih.

Ordo dan otoritas dalam Tritunggal
Suatu kali saya pernah berdiskusi dengan seorang pendeta yang mengatakan bahwa ordo dalam Tritunggal bersifat horisontal dan vertikal. Secara horisontal berarti bahwa ketiga pribadi setara dalam kuasa dan kemuliaan, sedangkan jika kita berbicara ordo dalam pengertian vertikal berarti bahwa Bapa lebih berotoritas dari Anak dan Roh Kudus, dan Anak lebih berotoritas dari Roh Kudus. Saya langsung menyatakan ketidaksetujuan saya atas konsep tersebut dengan alasan bahwa jika kita membicarakan kesetaraan ketiga oknum Tritunggal dalam hal kuasa dan kemuliaan maka tentu kita tidak mungkin berbicara mengenai siapa yang lebih berotoritas di antara ketiga-Nya. Istilah kuasa (power) mengindikasikan adanya otoritas. Jika demikian mengatakan bahwa Bapa lebih berotoritas dari kedua oknum Tritunggal yang lainnya, sama dengan mengatakan bahwa Bapa memiliki kuasa yang lebih besar. Karena itu, ketika kita menerima kesetaraan pribadi-pribadi Tritunggal dalam hal kuasa dan kemuliaan, maka membicarakan perihal otoritas Bapa yang lebih besar merupakan sebuah kontradiksi.
Seluruh teolog Reformed dan banyak teolog bukan Reformed menerima bahwa Bapa, Anak dan Roh Kudus setara dalam kuasa dan kemuliaan (equal in power and glory). Ketika membahas Tritunggal (30 halaman) dalam Institutes of the Christian Religion, buku I, John Calvin tidak menyinggung sedikit pun perihal otoritas Bapa yang lebih besar dari kedua Pribadi Tritunggal yang lain.5
Ketika kita mengatakan bahwa Bapa, Anak dan Roh Kudus sehakekat, itu berarti bahwa masing-masing pribadi memiliki seluruh esensi keilahian secara utuh tanpa terbagi. Jika demikian, nampaknya membicarakan Bapa lebih berotoritas dari Anak dan Roh Kudus merupakan pengurangan atas kemuliaan substansi ilahi Anak maupun Roh Kudus. Tetapi membicarakan pengurangan substansi Anak dan Roh Kudus jelas tidak mungkin tanpa sekaligus mengurangi substansi ilahi Allah Bapa, karena ketiga pribadi tersebut hanya memiliki satu substansi yang sama, identik dan tidak terbagi.
Memang kita bisa membicarakan subordinasi dalam Tritunggal, tetapi hanya pada saat kita membicarakan ordo atau urut-urutan secara logis dan bersifat horisontal. Louis Berkhof mengatakan, ”There is a certain order in the ontological Trinity. In personal subsistence the Father is first, the Son second, and the Holy Spirit third. It need be hardly said that this order does not pertain to any priority of time or of essential dignity, but only to the logical order of derivation.”6
Jika demikian timbul pertanyaan, mengapa Anak taat kepada Bapa dan Roh Kudus taat kepada Bapa dan Anak? Bukankah hal ini mengasumsikan adanya tingkatan otoritas dalam Tritunggal? Mari kita melihat apa yang dimaksud dengan otoritas. Otoritas secara sederhana bersangkut paut dengan kuasa atau wewenang seseorang atas orang lain atau sebuah obyek tertentu. Siapa yang memiliki otoritas tentu lebih besar kuasanya dari orang-orang yang berada di bawah otoritasnya. Berkaitan dengan Tritunggal, konsekwensi logis dari definisi tersebut adalah bahwa yang memiliki otoritas adalah pihak yang harus ditaati sedangkan yang lebih inferior adalah yang harus taat. Demikianlah maka Anak harus taat kepada Bapa karena Bapa memiliki otoritas lebih besar.
Tetapi pengertian teologi Reformed terhadap ketaatan Anak kepada Bapa tidak demikian. Teologi Reformed berkata bahwa Anak taat dan tunduk secara sukarela kepada Bapa karena di dalam kekekalan natur Anak memang demikian adanya. Sama halnya dengan Roh Kudus yang oleh natur-Nya secara sukarela tunduk kepada Bapa dan Anak. Benar, bahwa Anak dan Roh Kudus tunduk secara sukarela karena naturnya memang demikian. Tetapi mengatakan bahwa Anak dan Roh Kudus tunduk kepada Bapa karena Bapa lebih berotoritas adalah hal lain yang menyimpangkan kita kepada ajaran subordinasi yang salah. Di sini muncul pertanyaan yang sangat penting, bisakah ketundukan tersebut terjadi tanpa otoritas? Berdasarkan argumen-argumen saya di bawah ini, hal itu bisa saja terjadi, karena:
1.Jika kita menerima bahwa Bapa, Anak dan Roh Kudus adalah sehakekat maka secara alamiah ketiga pribadi Tritunggal melakukan fungsinya masing-masing tanpa perlu diatur oleh otoritas. Dalam ordonya secara logis, Bapa menjadi inisiator secara sukarela, Anak tunduk kepada inisiatif Bapa secara sukarela dan secara otomatis Roh Kudus tunduk secara sukarela kepada Bapa dan Anak. Allah tidak membutuhkan otoritas untuk menata diri-Nya agar tertib dan teratur karena hakekat keilahian-Nya memang sudah tertib dan teratur. Hanya manusia yang bersifat (meminjam istilah Stephen Tong) created, limited and polluted yang memerlukan secara urgen sebuah otoritas yang mengatur atau menatanya. Demikian juga dengan dunia malaikat dan seluruh alam semesta ini.
2.Jika Bapa, Anak dan Roh Kudus adalah kebenaran, maka tidak mungkin ada kesalahan baik secara metafisik, secara moral dan secara logika dalam diri Tritunggal. Lagi pula di dalam-Nya tidak ada kekurangan, keterbatasan, kelemahan dan cacat yang memungkinkan munculnya sebuah pemberontakan (makar) dari Pribadi tertentu yang menyebabkan terjadinya disorder dalam diri Tritunggal. Jika demikian maka Tritunggal tidak memerlukan otoritas untuk menata diri-Nya. Otoritas Allah Tritunggal hanya ditujukan untuk menata seluruh alam semesta ini dan segala makhluk ciptaan-Nya.
3.Bukankah dalam Yoh. 14:28 Kristus mengatakan bahwa Bapa lebih besar dari diri-Nya? Bavinck memberi penjelasan mengenai hal ini demikian, ”Accordingly, when in John 14:28 Jesus says that his going to the Father is for the disciples an occasion for rejoising, ”for the Father is greater than I,” he does not mean that the father is greater in power – for John 10:28-30 teaches differently – but he refers to himself in his humiliation. The Father in his glory is greater than the Son in his humiliation. But When Jesus Goes to the Father, this inferiority will end.”7 Argumen Bavinck sangat jelas. Kristus mengatakan Bapa lebih besar berkenaan dengan perendahan diri-Nya pada saat inkarnasi.
4.Ada satu hal yang sangat indah yang muncul dari ordo Tritunggal jika kita renungkan. Ketundukan dua Pribadi yang lain terhadap Allah Bapa mencerminkan karakter yang sangat mulia dan agung (super gentle) bukan saja dari kedua Pribadi yang tunduk tetapi juga dari Allah Bapa. Allah Bapa di dalam kekekalan, tanpa waktu, tanpa proses, memperanakkan Anak dan mengkomunikasikan substansi keilahian-Nya secara penuh termasuk kuasa dan otoritas-Nya kepada Anak. Nyata di sini keagungan tanpa tanding dari Pribadi Bapa yang ”memberikan” segala hal yang dimiliki-Nya pada Anak tanpa takut, cemburu dan gentar sedikit pun. Di sini kita juga melihat kerendahan hati Bapa yang sedemikian dalam dan tak terkira. Anak diperanakkan oleh Bapa dan dikomunikasikan kepada-Nya seluruh kualitas keilahian termasuk kuasa dan otoritas Bapa secara kekal, tetapi Anak tidak mengambil semua itu untuk diri-Nya dan semuanya dikembalikan untuk kemuliaan Allah Bapa. Di sini kita melihat keagungan dan kerendahan hati dari Anak yang tak terukur. Roh Kudus keluar dari Bapa dan Anak dan dikomunikasikan kepada-Nya seluruh kualitas keilahian termasuk kuasa dan otoritas yang setara dengan Bapa dan Anak secara kekal, namun Ia tak pernah bekerja untuk diri-Nya, melainkan seluruh-Nya diberikan agar Anak ditinggikan dan Bapa boleh dipermuliakan. Di sini juga kita melihat keagungan dan kerendahan hati Roh Kudus yang tidak tertandingi. Di dalam hubungan yang sangat mulia dan agung ini, kita tidak bisa membicarakan mana oknum yang lebih berotoritas dan mana yang inferior. Ketiga Pribadi Tritunggal setara dalam kuasa (otoritas) dan kemuliaan.
Dengan pengertian ini kita terhindar dari ajaran subordinasi yang menyimpang. Saya percaya bahwa ketiga Pribadi Tritunggal yang berada dalam satu hakekat, masing-masing secara alamiah menata diri-Nya tanpa harus menggunakan otoritas. Bapa sebagai sumber segala sesuatu adalah selalu yang pertama, kemudian Anak di mana segala sesuatu adalah melalui-Nya, selalu menjadi yang kedua dan Roh Kudus, di mana segala sesuatu berada dalam Dia, selalu menjadi yang ketiga. Hubungan yang indah, tertib, harmonis dan teratur ini terjadi begitu saja dalam kekekalan karena (meminjam istilah orang Jawa), dari ”sononya” Tritunggal memang demikian.

Tritunggal Tidak Bisa Dijelaskan Dengan Ilustrasi
Seperti sudah dikatakan di atas bahwa Allah Tritunggal tidak bisa diilustrasikan dengan apapun. Ada banyak pihak yang berusaha untuk memberikan ilustrasi, tetapi semua ilustrasi itu mengandung kelemahan yang tidak sedikit. Beberapa di antaranya kita akan bahas:
1.Ilustrasi satu Allah dengan tiga fungsi. Ilustrasi ini biasa dijelaskan demikian, seorang laki-laki kalau ia berada di rumah menjadi bapak bagi anak-anaknya, kalau ia sedang menyetir mobil dijalan ia menjadi sopir dan sesampai dikantor ia menjadi direktur. Jadi laki-laki yang satu ini tadi, adalah bapak sekaligus sopir dan direktur. Ilustrasi ini sangat menyesatkan dan merupakan penjelasan dari ajaran Sabelianisme. Sabelius mengatakan bahwa Allah di dalam PL adalah Bapa, kemudian berinkarnasi menjadi Anak dalam PB, lalu naik ke Sorga dan kembali lagi menjadi Roh Kudus. Jadi, ada satu Allah dengan tiga fungsi. Ajaran ini sama sekali menyimpang dari ajaran Alkitab yang dengan jelas mengajarkan bahwa Allah adalah satu esensi dan tiga pribadi yang berbeda-beda.
2.Ilustrasi air, es dan uap. Air, es dan uap memiliki materi yang sama tetapi bisa tampil di dalam tiga wujud. Air bisa membeku menjadi es atau menguap menjadi uap. Es bisa menyublim menjadi uap atau mencair menjadi air. Uap bisa mengembun menjadi air. Kelemahan ilustrasi ini sama saja dengan yang di atas. Di dalam Tritunggal, Bapa tidak bisa berubah wujud menjadi Anak atau Roh Kudus, demikian sebaliknya. Bapa adalah tetap Bapa, demikian juga dengan Anak dan Roh Kudus.
3.Ilustrasi matahari. Matahari terdiri dari tiga bagian yaitu bulatan matahari itu sendiri, sinarnya dan panasnya. Tetapi kelemahan ilustrasi ini sudah jelas yaitu bahwa bulatan matahari itu sendiri tanpa sinar dan panasnya, bukanlah matahari. Begitu juga, jikalau hanya sinar atau panasnya saja, bukanlah matahari. Sedangkan di dalam konsep Allah Tritunggal, Bapa saja adalah Allah sepenuhnya, begitu juga dengan Anak dan Roh Kudus.
4.Ilustrasi segitiga, sama lemahnya dengan ilustrasi matahari, karena salah satu sudut segitiga saja bukanlah segitiga itu sendiri.

Senin, 07 Desember 2009

YESUS: TUHAN & JURUSELAMAT SATU-SATUNYA

Oleh Muriwali Yanto Matalu

Natal tahun ini, sama seperti tahun-tahun sebelumnya, terus-menerus diperingati oleh banyak orang. Mereka yang sungguh-sungguh percaya dan mencintai Yesus, yang kelahiran-Nya sebagai manusia dirayakan, menggunakan momen Natal untuk mengoreksi diri dan berjanji untuk melayani dan memuliakan Dia lebih baik lagi pada tahun berikutnya. Tetapi, banyak orang yang juga turut meramaikan perayaan Natal tanpa mengerti dengan jelas siapakah Yesus yang dirayakan kelahiran-Nya. Mereka yang demikian itulah yang cenderung menggunakan momen Natal untuk berpesta pora dan memuaskan berbagai-bagai nafsu jahat di dalam diri, dengan makan dan minum secara liar, bermabuk-mabukan dan berzinah.
Siapakah Yesus? Mari kita melihat arti nama Yesus Kristus. Pertama, istilah Yesus adalah istilah Yunani yang diterjemahkan dari istilah Ibrani Jehoshua atau Joshua atau Jeshua yang berarti to save atau menyelamatkan. Kuyper memiliki pengertian lain. Dia berkata bahwa Jehoshua berasal dari kata Jeho (Jehovah) dan Shua yang berarti menolong. Jadi Jehoshua berarti Yehovah menolong. Karena itu dapat disimpulkan bahwa nama Yesus berarti Yehovah menyelamatkan atau Yehovah menolong. Kedua, nama Kristus berasal dari istilah Ibrani Mashiach yang berarti “orang yang diurapi.” Jadi, Yesus Kristus berarti Yehovah menolong atau menyelamatkan umat-Nya melalui Dia yang Diurapi.
Tulisan ini merangkum pengajaran paling penting dari iman Kristen historis yang merupakan tinjauan filosofis dan teologis secara singkat mengenai Yesus Kristus, Pribadi kedua dari Allah Tritunggal, Tuhan dan Juru Selamat satu-satunya. Namun sebelum saya menegakkan doktrin tentang Yesus sebagai Tuhan dan Juru Selamat satu-satunya, terlebih dahulu saya menegakkan doktrin Allah Tritunggal, karena bagaimana pun, pengakuan iman kita mengatakan bahwa Yesus adalah Allah Pribadi kedua dari Tritunggal. Dia adalah Allah yang mengambil natur manusia.

Allah Tritunggal: kesatuan, keragaman & persekutuan
Allah yang diajarkan dalam Alkitab adalah bersifat Tritunggal. Ada begitu banyak ayat-ayat yang bertebaran dalam Alkitab mengenai Tritunggal, dan dengan sangat jelas dinyatakan dalam Matius 3:16-17. Menurut Alkitab, Allah adalah satu hakekat dan Allah yang satu hakekat itu memiliki tiga Pribadi yang berbeda-beda. Dalam Tritunggal inilah, prinsip kesatuan dan keragaman (yang mati-matian diselidiki para filsuf) dan persekutuan (yang diusahakan orang Kristen) mendapatkan jawaban yang tuntas.
Sebelum kita melihat kesatuan dan keragaman dalam Tritunggal secara khusus, kita terlebih dahulu melihat bahwa prinsip kesatuan dan keragaman merupakan prinsip yang mutlak ada pada Allah maupun ciptaan. Jika kita menekankan kesatuan atau yang ”satu” saja maka itu bukanlah apa-apa. Itu adalah nihil. Sebaliknya, jika kita hanya menekankan keragaman saja, maka itu hanyalah kekacauan atau bahkan nihil.
Saya akan mengemukakan satu contoh untuk hal ini agar menjadi lebih jelas. Sebuah buku memiliki kesatuan dan keragaman di dalam dirinya. Kesatuannya adalah bahwa buku itu adalah satu buku, sedangkan keragamannya adalah bahwa buku itu memiliki kulit, isi, lem dan benang perekatnya, serta tulisan-tulisan di dalamnya. Sekarang mari kita abaikan keragamannya dan hanya menekankan kesatuannya. Yang menjadi keragamannya adalah apa? Kulitnya. Lepaskan dan buanglah kulitnya. Apa lagi? Isinya. Lepaskan dan buanglah isinya. Apa lagi? Lem dan benang perekatnya. Lepaskan dan buanglah itu. Lepaskan dan buang semua yang ada padanya yang merupakan keragamannya. Apakah yang tersisa? Bukankah pada akhirnya kosong? Menekankan kesatuannya saja berarti kosong. Contoh lain, bayangkanlah bahwa seluruh dunia ini hanyalah air. Segala sesuatu hanya air saja, tak ada yang lain. Apa yang terjadi? Bukankah itu tidak berarti apa-apa? Itulah hasilnya jika segala sesuatu hanya satu dan tidak memiliki keragaman.
Sebaliknya, sekarang mari kita abaikan kesatuan dan kita hanya menekankan keragaman. Kembali kepada contoh buku tadi, pisahkan kulit dari isinya dan setiap apa yang menjadi keragamannya karena semua itu tidak boleh jadi satu. Bukankah kita sedang membuang kesatuannya? Pisahkan semuanya. Apa yang tersisa? Onggokan kertas, lem, benang dan sebagainya yang berserakan di lantai.
Tetapi, kita masih bisa melihat onggokan yang berserakan itu, karena onggokan itu masih memanfaatkan kesatuan. Apa yang menyatukan onggokan berserakan itu? Jawabnya tentu lantai. Sekarang mari kita buang lantainya (jika bisa), dan di manakah sekarang onggokan kertas, lem dan benang itu? Katakanlah, onggokan itu melayang-layang di udara. Tetapi onggokan itu masih melayang-layang, oleh karena ada udara yang menjadi pemersatunya sehingga onggokan itu masih kelihatan melayang-layang. Di sini kesatuan belum sama sekali dihilangkan. Sekarang katakanlah bahwa tidak ada udara dan tidak ada hal lain apa pun lagi yang menjadi wadah yang menyatukan onggokan tadi. Apakah yang tersisa? Bukankah pada akhirnya juga nihil?
Jadi, dari contoh ini kita sekarang tahu bahwa kesatuan dan keragaman yang eksis secara bersama-sama adalah mutlak bagi sebuah substansi yang bereksistensi. Tanpa unsur kesatuan dan keragaman maka semuanya kosong atau nihil.
Menarik sekali bahwa filsuf mula-mula Yunani mencari hakekat atau substansi dari alam semesta ini. Thales berkata bahwa unsur utama adalah air. Dalam hal ini Thales mencari kesatuan dari keragaman yang dilihatnya di dalam alam. Heraklitus berkata bahwa segala sesuatu berubah kecuali perubahan itu sendiri. Dia menekankan keragaman. Sedangkan Parmenidas berkata bahwa apa pun yang ada itu pasti ada, dengan demikian dia menyangkal perubahan. Dia menekankan kesatuan. Filsafat Modern mencari kesatuan atau makna tunggal dari keragaman, sedangkan filsafat Postmodern menekankan keragaman di atas kesatuan. Di dalam Allah Tritunggal, kesatuan dan keragaman yang digumulkan filsafat mendapatkan jawabannya secara tuntas.
Allah itu hanya satu, baik secara angka yang biasa disebut sebagai the numerical oneness of God atau the unity of God, maupun secara kualitas yang juga disebut the qualitative oneness of God atau the simplicity of God. Tetapi Allah yang satu itu memiliki keragaman pribadi. Di dalam Allah yang satu itu, eksis secara bersama-sama tiga pribadi yang berbeda-beda. Karena itu, di dalam kesatuan hakekat Allah yang tak terpisahkan, ada hubugan yang bersifat harmoni, hidup, kaya dan unik dari keragaman pribadi-Nya.
Prinsip penting mengenai kesatuan dan keragaman dalam diri Allah, tercermin dalam segala hal di alam semesta ini. Sebuah pohon misalnya memiliki akar, batang, cabang, carang dan daun serta buah. Tetapi walaupun terdiri dari kepelbagaian, di dalamnya ada satu kesatuan yang utuh. Sebuah rumah, sebuah lembaga, sistim tata surya kita atau apa saja yang ada dalam dunia ini, bahkan apa yang dicari oleh para filsuf dalam filsafat pasti mencerminkan prinsip kesatuan dan keragaman.
Relasi antara kesatuan dan keragaman dalam alam semesta ini bisa bersifat organik atau memiliki relasi yang hidup, bisa juga berupa relasi struktural atau bersifat mekanis. Tetapi faktanya adalah bahwa semua mencerminkan prinsip kesatuan dan keragaman. Dan fakta ini bagi saya, meneguhkan keyakinan saya akan doktrin Tritunggal, bahwa Allah sungguh-sungguh adalah Tritunggal karena ke-Tritunggalan-Nya direfleksikan oleh seluruh bagian dari alam semesta ini.

Catatan:
Mengatakan bahwa kesatuan dan keragaman Allah direfleksikan oleh seluruh alam semesta ini tidak sama dengan mengatakan bahwa kesatuan dan keragaman dari Tritunggal sama dengan apa yang ada dalam alam semesta. Perbedaan hal ini jelas. Di dalam Tritunggal, jika kita mengacu kepada salah satu saja keragaman-Nya, misalnya jika kita mengacu kepada Bapa saja, maka Bapa saja adalah keseluruhan Allah sepenuhnya. Begitu juga jika kita hanya mengacu kepada Anak, atau Roh Kudus saja. Tidak demikian dengan kesatuan dan keragaman alam semesta ini. Salah satu keragaman atau bagiannya, tidaklah mewakili seluruhnya. Misalnya, akar sebuah pohon bukanlah pohon itu secara keseluruhan. Yang saya ingin tekankan di sini hanyalah prinsip kesatuan dan keragaman (unity and diversity) yang terdapat di seluruh alam semesta ini, yang merefleksikan kesatuan dan keragaman dalam diri Allah Tritunggal.

Dari keragaman pribadi Tritunggal yang berada dalam satu kesatuan inilah terdapat satu persekutuan yang hidup, di mana masing-masing Pribadi saling bersekutu, saling berkomunikasi dan saling mengasihi satu dengan yang lainnya.
Keragaman Pribadi Tritunggal hanya tiga, tidak lebih dan tidak kurang. Hal ini disebabkan oleh karena sebuah persekutuan mutlak hanya memunculkan tiga pihak. Persekutuan kasih misalnya, bisa saja diwujudkan oleh hanya dua pihak, misalnya saya mengasihi isteri saya atau sebaliknya isteri saya mengasihi saya. Saya menjadi subyek dan isteri saya menjadi obyek atau sebaliknya. Tetapi relasi kasih yang hanya terdiri dari dua pihak ini belum sempurna, karena membutuhkan pihak ketiga yang mengamati, menyaksikan dan turut bersukacita atas hubungan kami. Pihak ketiga tersebut bisa teman-teman, keluarga, rekan pelayan dan sebagainya. Siapapun yang bukan saya dan bukan isteri saya, mereka semuanya digolongkan sebagai pihak ketiga. Di sini kita melihat dengan jelas bahwa persekutuan itu bersifat ketigaan (trinal).
Itu sebabnya angka tiga merupakan angka persekuatuan (fellowship) dan inilah yang menjadi alasan mengapa keragaman Pribadi Tritunggal hanya tiga, tidak kurang dan tidak lebih.

Yesus, Allah Pribadi kedua dari Tritunggal
Sekarang saya akan membahas tentang Yesus Kristus yang merupakan Pribadi kedua dari Tritunggal.
Teologi Liberal berkata bahwa Yesus hanyalah manusia biasa yang memiliki moral yang sangat tinggi. Saksi Yehovah berkata bahwa Yesus adalah Allah yang diciptakan oleh Allah Yehovah. Pernyataan saksi Yehovah ini mengandung kontradiksi. Jika Yesus adalah Allah yang “diciptakan” oleh Allah Yehovah maka pada dasarnya Dia bukan Allah tetapi ciptaan.
Saya akan memberikan beberapa argumen dari Alkitab yang membuktikan bahwa Yesus adalah Allah sehingga dapat disimpulkan bahwa pendapat teologi Liberal maupun saksi Yehovah salah.
Pertama, istilah Allah dan Tuhan walaupun memiliki arti yang berbeda namun memiliki kesetaraan, karena baik Allah maupun Tuhan merupakan nama diri Tuhan Allah. Kedua nama itu ditujukan kepada Yesus juga. Dalam Alkitab, Yesus disebut sebagai Tuhan dan Allah. Sebagai contoh, baca Yoh. 20:28.
Istilah Elohim dalam bahasa Ibrani (PL) yang akar katanya mungkin berasal dari kata ’ul atau ’alah memiliki arti dilingkupi ketakutan (to be smitten with fear) yang menunjukkan bahwa Dia adalah Allah yang membangkitkan ketakutan atau kegentaran karena kebesaran dan keagungan-Nya. Istilah Elohim ini diterjemahkan ke dalam bahasa Yunani (PB) sebagai Theos, dalam bahasa Inggris diterjemahkan sebagai God, lalu dalam bahasa Indonesia diterjemahkan sebagai Allah.
Istilah Adonai dalam bahasa Ibrani (PL) yang memiliki arti memerintah (to rule) atau menghakimi (to judge) juga merupakan salah satu dari nama Tuhan yang menunjukkan bahwa Dia adalah Pemerintah dan Penghakim alam semesta ini. Istilah Adonai ini diterjemahkan ke dalam bahasa Yunani (PB) sebagai Kurios, dalam bahasa Inggris diterjemahkan sebagai Lord dan dalam bahasa Indonesia diterjemahkan sebagai Tuhan.
Nama Ehyeh asyer Ehyeh (YHWH - Yahweh) adalah nama Tuhan yang dinyatakannya kepada Musa dalam Kel. 3:14, yang dalam bahasa Indonesia diterjemahkan sebagai “Aku adalah Aku.” Oleh karena bagi orang Israel nama ini adalah nama yang paling sakral, maka mereka sangat menghargai nama Yahweh dan sangat ketakutan jika mereka keliru untuk menyebut atau menulisnya. Itu sebabnya seluruh kata YHWH dalam PL diganti dengan nama Adonai dalam kitab PL septuaginta (terjemahan PL ke dalam bahasa Yunani oleh 70 orang tua-tua Yahudi di Aleksandria, Mesir, kira-kira tahun 70 SM). Lalu diterjemahkan sebagai Kurios dalam bahasa Yunani, Lord dalam bahasa Inggris dan Tuhan dalam bahasa Indonesia.
Ada yang mengatakan bahwa Alkitab tidak menyebut Yesus sebagai Allah tetapi hanya disebut sebagai Tuhan. Pendapat ini sangat keliru karena Yesus disebut sebagai Allah oleh Yohanes secara terang-terangan dalam Injil Yoh. 1:1, “Pada mulanya adalah Firman; Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah.” Tidak diragukan lagi, bahwa Firman yang dimaksud oleh Yohanes di sini adalah Yesus Kristus (baca dengan teliti Yoh. 1:14-51). Bukan hanya itu, dalam Yohanes 20:28, Thomas memanggil Yesus sebagai Tuhan dan Allah dan Yesus tidak menolak sebutan itu.
Kedua, Yesus menyetarakan diri dengan Dia yang bertemu dengan Musa dan yang memperkenalkan namanya sebagai Ehyeh asyer Ehyeh (YHWH) atau Aku adalah Aku (Indonesia), Kel. 3:14. Dengan apakah Yesus menyetarakan diri-Nya? Yesus menyetarakan diri-Nya dengan berkata: “Akulah roti hidup” (Yoh. 6:48); Akulah terang dunia;…” (Yoh. 8:12) “Akulah pintu;…”(Yoh.10:9); “Akulah gembala yang baik.” (Yoh.10:11); “Akulah kebangkitan dan hidup;…” (Yoh. 11:25); “…Akulah Guru dan Tuhan” (Yoh. 13:13); “Akulah jalan dan kebenaran dan hidup” (Yoh.14:6); “Akulah pokok anggur yang benar…” (Yoh. 15:1). Ada sekitar delapan kali Yesus menyatakan Akulah…, dan dengan sendirinya Dia menyamakan diri dengan “Sang Aku adalah Aku” dalam Kel. 3:14.
Jelas sekali di sini bahwa Dialah Sang Firman yang berfirman kepada Musa dalam Kel. 3:14 dan juga yang berfirman “Aku adalah… “ sebanyak delapan kali dalam Injil Yohanes.
Allah Tritunggal dalam karya-Nya selalu dimengerti sebagai, segala sesuatu keluar Allah Bapa, melalui Firman (Allah Anak) dan di dalam Roh Kudus. Jadi oknum yang bertemu dengan Musa dan seluruh nabi-nabi PL dan rasul-rasul PB adalah Firman (Pribadi Kedua Tritunggal) yang melalui-Nya Allah Bapa berhubungan dengan makhluk-Nya.
Ketiga, Yesus mengampuni dosa selama Dia melakukan pelayanan-Nya (mis. Mrk 2:5,9-10). Secara logis, pihak yang berhak memberikan pengampunan kepada seseorang yang telah berbuat salah, hanyalah orang yang pernah dirugikan atau disakiti oleh orang yang bersalah tersebut dan pihak yang berikutnya adalah Tuhan Allah. Contoh, jika saya disakiti oleh katakanlah si Dul, maka yang berhak memberikan pengampunan kepada si Dul hanyalah saya dan juga hanya Tuhan Allah. Bukankah kelihatan lancang jika seseorang yang lain mengampuni kesalahan si Dul terhadap saya?
Sekarang kita melihat bahwa Yesus mengampuni dosa orang yang lumpuh dalam Injil Mrk 2:5. Kapankah orang lumpuh itu berbuat salah kepada Yesus? Tidak pernah. Jika Yesus hanyalah seorang manusia belaka maka Dia telah bertindak lancang dan sembarangan mengampuni dosa orang lumpuh tersebut. Jika Yesus tidak mempunyai hak untuk mengampuni dosa orang lumpuh tersebut, karena orang lumpuh itu tidak pernah bersalah terhadap-Nya, mengapa Yesus mengampuni dosanya? Jawabannya adalah, Yesus mengampuni dosa orang lumpuh itu karena Dia bukan hanya manusia saja tetapi Dia juga adalah Allah. Karena Dia adalah Allah maka segala kesalahan yang diperbuat oleh orang lumpuh itu sangat menyakiti hati-Nya. Setiap dosa dalam bentuk apa pun adalah pelanggaran terhadap hukum Allah. Yesus adalah Allah, oleh karena itu di dalam belas kasihan-Nya Dia mengampuni orang lumpuh itu.

Yesus, Allah yang mengambil natur manusia
Sekarang kita akan membahas tentang Yesus Pribadi kedua dari Tritunggal yang mengambil natur manusia. Dalam Yoh. 1:14 dikatakan bahwa Firman itu telah menjadi manusia dan diam di antara kita. Kita harus berhati-hati dalam mengerti masalah ini. Jika Alkitab berkata bahwa Firman itu menjadi manusia, maka maksudnya bukan Firman itu berubah menjadi manusia, atau Allah berubah menjadi manusia sehingga Dia menjadi manusia dan berhenti menjadi Allah. Ini adalah pengertian yang menyesatkan. Hal ini juga tidak berarti bahwa setelah Allah menjadi manusia, maka Dia adalah Allah, di mana ke-Allahan-Nya juga sekaligus adalah kemanusian-Nya. Ini adalah pemahaman yang berkontradiksi. Jika kita berkata bahwa keilahian Yesus juga sekaligus menjadi kemanusiaan-Nya, maka ini adalah pengertian yang juga menyesatkan.
Ajaran Alkitab yang mengatakan bahwa Allah menjadi manusia, maksudnya adalah bahwa Allah yakni Pribadi kedua dari Tritunggal yang memiliki seluruh natur ke-Allahan, mengambil natur manusia 2000 tahun yang lalu ketika Dia turun ke dalam dunia. Setelah Dia lahir menjadi manusia, maka Pribadi kedua Tritunggal tersebut memiliki dua natur yang berbeda. Pertama natur Allah karena Dia memang Allah dan kedua setelah menjadi manusia Dia juga memiliki natur manusia. Jadi di sini kita melihat bahwa Yesus Kristus memiliki dua natur yang berbeda. Dia adalah Allah 100% dan Juga adalah manusia 100%. Kedua natur Kristus ini bersatu di dalam satu Pribadi, yaitu Pribadi kedua Allah Tritunggal, tetapi kedua natur ini tidak bercampur, tidak berubah tetapi bisa dibedakan dengan jelas, dan tidak terbagi atau terpisah.
Sebagai Allah, Yesus bisa melakukan mujisat. Dia bisa membangkitkan orang mati, mengampuni dosa manusia dan yang terpenting, di samping nabi-nabi PL dan rasul-rasul PB menyatakan bahwa Dia adalah Allah, maka Yesus sendiri pun menyatakan bahwa diri-Nya adalah Allah. Bandingkan dengan kata ”Akulah ...” dalam Injil Yohanes.
Sebaliknya, Yesus sebagai manusia yakni tubuh dan jiwanya, adalah diciptakan. Ini sangat konsisten dengan pernyataan Injil Matius yang menyatakan bahwa Maria mengadung dari Roh Kudus, Mat.1:20. Roh Kuduslah yang berkarya dalam penciptaan manusia Yesus Kristus. Ada orang-orang Kristen tertentu, bahkan pendeta-pendeta yang mengajarkan bahwa Yesus adalah Allah tetapi mereka mengabaikan kemanusiaan-Nya. Kata mereka, ”Jika kita menyebut Yesus adalah manusia yang diciptakan maka kita menghujat Dia. Pada dasarnya pernyataan semacam ini adalah menyesatkan. Yohanes dalam surat I Yoh. 4:2&3 mengatakan bahwa orang yang tidak menerima Yesus yang sudah datang sebagai manusia adalah antikristus, I Yoh. 4:2.
Jika kita menekankan keilahian Yesus saja dan mengabaikan kemanusiaan-Nya adalah tidak sesuai dengan ajaran Alkitab. Sebaliknya, menekankan kemanusiaan Yesus saja dan menolak keilahian-Nya, itu juga tidak sesuai dengan ajaran Alkitab dan oleh karena itu sama sesatnya. Ajaran inilah yang dipromosikan oleh teologi liberal yang muncul di Jerman seperti yang diajarkan oleh Adolf Von Harnack dan Wilhelm Herrmann, kemudian yang muncul di Belanda pada ke sembilanbelas dalam diri orang-orang seperti Rauwenhoff, Scholten dan Abraham Kuenen, juga orang-orang modernisme dan liberal Amerika seperti Harry Emerson Fosdick dan yang lainnya.

Yesus, satu-satunya Juru Selamat
Yoh. 14:6 menegaskan bahwa Yesus adalah satu-satunya Jalan dan Kebenaran dan Hidup. Apakah pernyataan Yesus tersebut benar? Apakah memang benar bahwa kebenaran bersifat eksklusif? Bagaimana dengan pandangan Postmodern yang mengatakan bahwa kebenaran bersifat relatif. Bagaimana dengan pandangan yang mengatakan bahwa ada banyak jalan ke Roma? Apakah kebenaran bersifat eksklusif atau ada banyak kebenaran?
Kebenaran sejati bersifat mutlak dan eksklusif (satu-satunya). Karena kebenaran bersifat mutlak dan eksklusif, maka pernyataan Yesus dalam Yoh 14:6 adalah mutlak dan eksklusif.
Saudara, hukum kebenaran adalah either/or (salah satunya saja yang benar). Artinya, jika ada dua atau lebih pernyataan yang mengaku diri sebagai kebenaran tetapi saling bertentangan secara mutlak, maka tidak mungkin semuanya sama-sama benar. Di antara pernyataan yang bertentangan itu, hanya satu saja yang benar atau bisa jadi semuanya sama-sama salah.
Contoh, jika saya berkata bahwa kami sudah mempunyai tiga anak, dan sebaliknya isteri saya berkata bahwa kami belum memiliki anak, maka di antara kedua pernyataan ini hanya satu saja yang benar atau bisa jadi keduanya sama-sama salah. Menganggap bahwa pernyataan saya maupun pernyataan isteri saya sama-sama benarnya, adalah anggapan yang irasional. Hanya orang idiot atau orang gila yang memiliki anggapan demikian.
Jika pernyataan saya benar, maka secara otomatis pernyataan isteri saya pasti salah. Atau, bisa juga kami berdua sama-sama salah. Tetapi jika kami berdua sama-sama salah (ini terjadi jika kami sama-sama berbohong) maka tetap ada yang benar. Contoh, ternyata faktanya anak kami adalah satu orang, maka itulah yang benar.
Jadi, saudara bisa mengerti sekarang, bahwa kebenaran itu selalu muncul tersendiri dan bersifat eksklusif.
Filsafat Postmodern dan Pluralisme menekankan hukum both/and (kedua-duanya). Artinya, jika ada dua hal yang saling bertentangan secara mutlak maka kedua-duanya bisa sama-sama benarnya. Contoh, jika saya berkata kepada Amin bahwa saya adalah seorang yang tidak pernah berbuat dosa, lalu pada kesempatan lain saya berkata kepada Denny bahwa saya adalah seorang yang setiap saat berbuat dosa, walaupun kedua pernyataan ini bertentangan secara mutlak, namun menurut hukum both/and tetap bisa sama-sama benar.
Hukum both/and ini pada dasarnya irasional dan berkontradiksi pada dirinya. Hukum ini adalah hukum yang menghancurkan dirinya sendirinya.
Perhatikan, mereka yang memegang hukum both/and berkata bahwa kebenaran tidak bersifat eksklusif (bersifat either/or) tetapi bersifat both/and. Namun pernyataan ini mengandung unsur bunuh diri, karena jika mereka berkata bahwa both/and yang benar dan either/or salah, maka sebenarnya mereka sedang menggunakan hukum either/or untuk membenarkan teori both/and. Jika mereka konsisten dengan pemikiran both/and maka seharusnya hukum either/or juga harus diterima. Bukankah both/and mengatakan bahwa keduanya sama benarnya? Lagi pula, ketika mereka menegakkan superioritas cara berpikir both/and dan menjadikannya eksklusif maka secara tidak sadar mereka sedang menggugurkan hukum both/and dan menegakkan hukum either/or. Inilah kontradiksi dari cara pemikiran both/and.
Saudara, hukum kebenaran satu-satunya adalah either/or, karena kebenaran kapan pun dan di mana pun selalu bersifat eksklusif dan mutlak.
Berdasarkan konsistensi kebenaran yang bersifat eksklusif dan satu-satunya inilah Yesus Kristus dengan megah memproklamirkan bahwa diri-Nya adalah satu-satunya jalan dan kebenaran dan hidup (Yoh. 14:6). Dialah kebenaran satu-satunya dan hanya Dia saja. Tidak ada yang lain.
Dia yang adalah satu-satunya jalan, membawa kita kepada Bapa di Surga dan tidak mungkin menyesatkan.
Dia yang adalah satu-satunya kebenaran, membawa kita mengerti kebenaran sejati.
Dia yang adalah satu-satunya hidup, memberikan kita hidup yang kekal dan sejati.

Bagaimana Yesus memberikan keselamatan?
Saudara, kita sudah berdosa dan harus mati dalam dosa kita (Rm. 3:23; 6:23). Tak satu pun di antara kita yang bisa menyelamatkan dirinya dari murka Allah, karena Tuhan berkata bahwa tidak ada seorang pun yang benar, Rm 3:10. Sementara kita semua sedang menunggu hukuman neraka, pengharapan datang dari Yesus Kristus.
Apakah yang dikerjakan Yesus? Pertama, Dia menjalani hidup yang taat tanpa cacat untuk bisa memberikan kita hidup yang kekal. Adam telah gagal di taman Eden dalam hal ketaatan akan perintah Tuhan, dan oleh ketidaktaatannya maka semua keturunannya menjadi orang berdosa dan harus mati, Rm. 5:12. Namun Alkitab mengatakan bahwa Adam kedua yakni Kristus, taat sampai mati bahkan sampai mati di atas kayu salib, Flp. 2:5-8. Oleh karena ketaatan Kristus akan seluruh tuntutan hukum Taurat, maka semua orang yang percaya kepada-Nya berbagian dalam ketaatan-Nya dan menerima hidup yang kekal. Jadi, oleh ketidaktaatan satu orang (Adam di taman Eden), kita semua menjadi orang berdosa, maka oleh ketaatan satu orang (Yesus Kristus), kita semua diselamatkan. Band. Rm. 5:17. Inilah misi yang pertama dari Yesus Kristus.
Tetapi, walaupun oleh karena ketaatan Kristus kita boleh mendapatkan hidup yang kekal, namun Alkitab berkata bahwa kita adalah orang-orang berdosa dan harus dihukum oleh karena dosa-dosa kita. Karena kita adalah orang berdosa, maka dosa menghalangi kita untuk mendapatkan manfaat dari ketaatan Kristus yaitu untuk menerima hidup yang kekal. Karena itu, maka terlebih dahulu penghalangnya, yaitu dosa, harus disingkirkan. Untuk menyingkirkan dosa, atau lebih tepatnya, untuk menghapus dosa-dosa kita, maka Yesus Kristus harus mati di atas kayu salib. Secara logis, semua orang berdosa harus dihukum. Penghukuman itu berarti dibuang ke neraka selama-lamanya. Karena Allah mengasihi manusia, maka Dia mengutus Anak-Nya untuk menjalani penghukuman menggantikan manusia berdosa. Lih. Yoh. 3:16. Jadi, keadilan Allah atau murka Allah, ditimpakan kepada Yesus demi menggantikan kita. Kematian-Nya di atas kayu salib untuk menggantikan hukuman kita inilah yang menjadi misi kedua dari Kristus.
Misi yang ketiga dari Yesus Kristus adalah menyatakan kerajaan Allah kepada kita. Itu sebabnya Yesus mengajarkan kepada kita nilai dan moral kerajaan Allah (terutama lihat khotbah di bukit dalam Matius pasal 5-7). Selanjutnya, Dia sebagai Raja kerajaan Allah, memberi makan orang yang lapar, menyembuhkan orang sakit, membangkitkan orang mati dan sebagainya, yang membuktikan bahwa Dia adalah sungguh-sungguh Raja dari kerajaan Allah. Hal ini juga menunjukkan bahwa dalam kerajaan Allah yang dipimpin Yesus, segala sesuatu yang bersangkut paut dengan dosa dan segala akibatnya yakni penderitaan dan kematian tidak memiliki tempat. Inilah pengharapan yang besar bagi kita. Pengharapan untuk hidup selama-lamanya dalam kerajaan Allah.

Penutup
Sudahkah saudara menerima Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamatmu secara pribadi? Jika belum, percaya dan terimalah Dia sekarang. Berdoalah demikian:
Bapa di surga, terima kasih atas anugerah-Mu. Saat ini, saya mau percaya dan menerima Anak-Mu Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamatku.
Saya adalah orang berdosa, biarlah kiranya oleh pengorbanan Anak-Mu, dosaku dihapuskan.
Saya berdoa juga agar Roh-Mu yang Kudus, tinggal dalam hatiku selama-lamanya.
Terima kasih Tuhan atas anugerah keselamatan dari-Mu. Jadikanlah saya murid-Mu yang setia.
Dalam nama Tuhan Yesus Kristus, saya berdoa. Amin.

YESUS YANG TETAP SAMA

Oleh Warisman Harefa

Pendahuluan
Tiada yang lebih indah bagi orang-orang percaya menyambut perayaan Natal pada bulan Desember ini kecuali merenungkan keagungan pribadi Yesus yang tidak berubah. Sifat-Nya yang tetap sama menunjukkan keunikan diri-Nya yang berbeda dari siapapun tokoh-tokoh besar yang pernah muncul di dunia ini. Mungkin kita bertanya, bagaimana kita memahami bahwa Yesus tetap sama? Untuk mengawali topik ini, alangkah baiknya kita harus memiliki asumsi yang tepat bahwa ketika orang-orang Kristen mengakui bahwa Yesus tetap sama, itu bukan hanya suatu iman tetapi juga suatu proklamasi (pemberitaan). Kenapa ini penting? Ketika saya memikirkan hal ini semakin dalam, semakin saya menyadari bahwa suatu hal yang kontradiksi jika seseorang mengklaim bahwa ia tidak percaya pada sesuatu tetapi ternyata mengikatkan diri pada apa yang tidak dipercayainya itu. Dengan demikian, apabila kita menemukan kontradiksi dalam diri seseorang, itu menunjukkan kepalsuan dalam cara berpikirnya. Pandangan ini membawa kita pada arah yang sebaliknya, bahwa seluruh tindakan atau kebiasaan kita, diarahkan oleh pra-anggapan kita, atau sering disebut oleh para teolog sebagai: ’iman”. Inilah tepatnya, titik awal dan akhir dari cara pandang seseorang dalam memandang sekelilingnya dan bagaimana ia mengkonsepkan serta memberitakan apa yang diimaninya itu. Ronald Nash menyimpulkan hal ini, ”iman kita memiliki berita penting mengenai seluruh aspek kehidupan umat manusia yang harus dikabarkan. Jika seorang kristen telah mengerti secara sistematis bahwa pandangan-pandangan di luar Kekristenan juga merupakan wawasan-wawasan dunia, mereka akan memiliki posisi yang lebih baik untuk memberikan alasan secara rasional mengapa mereka memilih Kekristenan”.
Untuk membawa kita lebih maju menghayati keunikan sifat Tuhan Yesus yang tidak berubah ini, akan semakin melengkapi perenungan kita melihat iman dan proklamasi penulis kitab Ibrani yang memuat pengetahuan iman dari jemaat rasuli. Bunyinya sebagai berikut: ”Yesus Kristus tetap sama, baik kemarin maupun hari ini sampai selama-lamanya” (Ibrani 13:8). Konteks pengakuan iman jemaat ini mengimplikasikan bahwa pembaca surat ini terancam bahaya meninggalkan atau mengubah Yesus Kristus. Penulis mengingat bahaya ini merevitalisasi kebenaran sejati bahwa Yesus tidak berubah. Perubahan terhadap identitas Yesus mempertaruhkan identitas kekristenan sebagai orang-orang percaya yang dipanggil oleh Allah Tritunggal melalui Yesus Kristus. Sangat penting sekali ajaran ini bagi orang percaya untuk mengingatkan bahaya yang sedang mengancam identitas Kristus dan juga mengingatkan diri sendiri untuk memikirkan Yesus Kristus yang sama dengan cara yang sama walaupun dalam situasi, lingkungan, pikiran manusia yang berubah-ubah. Disinilah Yesus Kristus menempuh sejarah-Nya dalam tindakan umat Kristen mengkonseptualkan serta membahasakan imannya kepada Yesus Kristus yang tetap sama itu.

Pergeseran Paradigma Terhadap Yesus Kristus Dalam Sejarah
Jika kita kembali melihat masa lalu, usaha-usaha untuk mengubah Yesus begitu banyak. Usaha-usaha ini dapat dikategorikan dalam tiga kelompok, yaitu: Pertama, yang mempersoalkan ke-Allah-an Yesus, dapat dilihat dalam beberapa aliran seperti: Adoptionisme, Arianisme, Socianisme. Kedua, yang mempersoalkan ke-Manusia-an Yesus, dapat dilihat dalam beberapa aliran seperti: Doketisme dan Apollinarisme. Ketiga, yang mempersoalkan hubungan kedua sifat Yesus, dapat dilihat dalam beberapa aliran seperti: Eutychianisme dan Nestorius.
Pada abad ke-19 dan 20 aliran Liberalisme muncul dan berusaha untuk mengubah Yesus. Aliran ini menolak segala hal yang bersifat supranatural termasuk ke-Allah-an Yesus. Walau mereka mengakui Yesus Kristus adalah Allah tetapi hanya dalam arti bahwa Ia memiliki pengetahuan yang sempurna tentang Allah dan dipersatukan dengan Allah dengan ketaatan moral-Nya. Pada dasarnya, Ia tidak berbeda dengan manusia kecuali dalam hal moral.
Pada masa kini, bangkitnya pluralisme agama-agama yang bercita-cita membangun dunia utopia, sangat tidak senang dengan Kristologi ortodoks. Eka Darmaputera menegaskan bahwa dogma-dogma yang bersifat ortodoks ini mutlak diperbaharui, karena teologi harus mengikuti perkembangan sejarah. Dengan kata lain, seluruh klaim-klaim kekristenan merupakan produk kebutuhan gereja pada zaman tertentu dan waktu tertentu. Maka, ketika melihat situasi Indonesia yang memiliki kemajemukan agama klaim-klaim ini tidak memadai lagi. Ciri-ciri orang Kristen yang memunculkan keberatan terhadap klaim finalitas Kristus sebagai suatu hasil pengaruh dari ’Shock of Similarity’. Dalam buku ”Mitos Keunikan Agama Kristus”, Paul F. Knitter melihat pengaruh ini sebagai suatu jembatan penyeberangan, yaitu pada waktu mereka menemukan prinsip-prinsip moral tertentu di dalam tulisan-tulisan non-Kristen, misalnya ungkapan etika Kong Hu Cu dan etika Kristen: jangan perlakukan orang lain dengan cara yang engkau sendiri tidak ingin orang lain memperlakukanmu. Mereka juga menemukan gagasan inkarnasi dari lord Ishvara dalam pribadi Krishna dari tradisi Hindu yang dicatat dalam buku suci mereka Bhagawadghita; versi Budha dan Islam dari ”Persaudaraan semua manusia. Kecenderungan perelativan keunikan kekristenan menjadi lebih diterima di kalangan kekristenan. Untuk mencapai tujuan yang disebut ”kebersamaan dalam damai” orang-orang yang memperjuangkan ”Teologi Religionum” lebih rela mengorbankan iman mereka.
Dari usaha-usaha manusia yang mencoba mengubah Yesus Kristus, maka Kristologi merupakan salah satu ajaran penting Kristen yang harus direvitalisasi. Seperti yang diproklamasikan oleh penulis Ibrani, ” Yesus Kristus tetap sama, baik kemarin maupun hari ini sampai selama-lamanya”. Mungkin yang menjadi pertanyaan kepada kita, dimana letak kesamaan Tuhan Yesus kemarin, hari ini dan sampai selama-lamanya, jika Ia sudah berinkarnasi dalam rupa manusia dan sekarang sudah duduk di sebelah kanan Allah Bapa? Sebelum melihat hal ini lebih jelas, ada baiknya kita awali pengertian ketidakberubahan itu. Dalam studi theologi, ketidakberubahan (atau sama artinya dengan Yesus tetap sama) didefenisikan sebagai Yesus Kristus tidak berubah dalam keberadaan-Nya, kesempurnaan, tujuan dan janji-Nya, namun Ia bisa bertindak dan merasa secara berbeda dalam situasi yang berbeda. Dari defenisi ini, ketika kita mengimani Yesus tetap sama berarti tidak sama dengan Yesus dalam keadaan yang mandeg. Sorotan yang sangat penting memahami ketidakberubahan Yesus adalah keberadaan-Nya karena hanya dengan fakta bahwa jika Yesus tetap sama dalam keberadaan-Nya, menegaskan perbedaan antara Pencipta dan ciptaan. Dan hanya dengan penegasan bahwa Yesus tetap sama dalam keberadaan-Nya akan mengakibatkan ketidakberubahan dalam kesempurnaan, tujuan dan janji-Nya. Oleh sebab itu, untuk memahami Yesus yang tetap sama adalah tetap dengan memahami keberadaan-Nya yang unik sebagai Allah-Manusia sempurna. Kajian ini juga akan menjawab usaha-usaha manusia yang mencoba mengubah Tuhan Yesus, yang kecenderungannya hanya dua, yaitu: pertama, ada yang hanya mengakui kemanusian-Nya. Kedua, ada yang hanya mengakui ke-Allah-an-Nya

Keberadaan Yesus Yang Tetap Sama
Bila berbicara keberadaan yang tetap sama, maka itu hanya tertuju kepada keberadaan yang supranatural. Kita tahu bahwa hukum ini melanggar hukum-hukum natural, dimana segala sesuatu berada dalam proses yang terus-menerus dan hanya perubahan itu sendiri yang tidak berubah. Tetapi ketika kita diperhadapkan terhadap keberadaan Yesus yang tetap sama kemarin, sekarang dan selama-lamanya, hanya satu pengakuan terhadap-Nya bahwa Ia adalah Allah yang tanpa dibatasi oleh waktu. Ada banyak penegasan logika terhadap pengakuan Yesus sebagai Allah dalam pertentangan hukum ini. Pertama, jika segala sesuatu adalah proses dan jika tidak ada sesuatu yang kekal, maka sesungguhnya kita tidak pernah mengetahui adanya perubahan itu sendiri. Kedua, perubahan itu sendiri tidak mungkin terjadi jika tidak ada yang tidak berubah.
Begitu banyak penjelasan penulis-penulis Alkitab menyaksikan pribadi Yesus. Berita ini sangat kuat dan akurat karena bukan hanya Perjanjian Baru yang menyaksikan-Nya tetapi ada suatu kesinambungan kesaksian Perjanjian Lama dengan Perjanjian Baru tentang pribadi Yesus. Kesinambungan kesaksian Alkitab ini akan menunjukkan kebenaran perkataan penulis Ibrani bahwa Yesus tetap sama baik kemarin, hari ini dan sampai selama-lamanya (Ibr 11:8). Kesinambungan yang sangat menentukan disini adalah bahwa keberadaan dari Pribadi Kedua Allah Tritunggal ini tidak berubah, sekalipun masa inkarnasi bahkan pada kedatanganNya kedua kali, hanya Pribadi Kedua ini yang hanya mengenakan dua natur Allah-manusia walaupun natur manusia-Nya memiliki perbedaan kualitas pada masa pra-inkarnasi, masa inkarnasi, dan masa kedatangan-Nya kedua kali. Dari judul ”Yesus Tetap Sama” kita akan mengkaji secara sederhana tentang kesinambungan keberadaan Pribadi Kedua dari Allah Tritunggal, baik natur Allah dan juga manusia-Nya yang unik.

1. Masa Pra-Inkarnasi
Masa pra-inkarnasi adalah keberadaan Yesus sebelum berinkarnasi. Sesungguhnya, Alkitab menjelaskan bahwa Tuhan Yesus telah ada sebelum inkarnasi bahkan sebelum dunia dijadikan. Memang dalam Perjanjian Lama nama Yesus tidak pernah muncul tetapi bahwa keberadaan pribadi kedua dari Allah Tritunggal ini, selalu menjadi pusat pemberitaan seluruh sejarah Perjanjian Lama. Ada lebih satu pribadi di dalam ke-Allahan, kita sekali lagi menemukan perbedaan antara Jehovah sebagai utusan, seorang perantara dan Jehovah sebagai Dia yang mengutus, antara Bapa dan Putera, yang merupakan pribadi-pribadi yang kedudukan dan sama kekalnya.” Untuk memahami perbedaan ini dengan jelas, deskripsi Alkitab memberi penjelasan yang akurat. Dijelaskan oleh Allah sendiri bahwa seluruh kesaksian Alkitab mulai dari Musa, seluruh para nabi dan Mazmur hanya berpusat kepada Yesus sendiri (Lukas 24:44).
Hal ini dapat dipahami dalam setiap kali Allah datang kepada manusia, nama Malaikat Tuhan dan Tuhan sendiri dipakai silih berganti pada pribadi yang sama. Dengan mengetahui bahwa Malaikat Tuhan adalah Tuhan sendiri, maka dapat melihat kesinambungan antara penampakan Allah dalam Perjanjian Lama yang mengambil wujud manusia sementara dengan Yesus dalam Perjanjian Baru dengan mengambil natur manusia sempurna. Yohanes 1:18, “ tidak seorangpun yang pernah melihat Allah; tetapi Anak Tunggal Allah, yang ada dipangkuan Bapa, Dialah yang menyatakan-Nya.” Dari ayat ini, sesungguhnya seluruh perjumpaan manusia dengan Tuhan dalam Perjanjian Lama adalah perjumpaan dengan pribadi kedua Allah Tritunggal yaitu Yesus yang berinkarnasi. Penampakkan diri Allah kepada manusia dikenal dengan “theophani”. Perjumpaan pribadi Allah dengan manusia mengimplikasikan bahwa Allah mengenakan natur manusia walaupun bersifat sementara. Tetapi hanya dengan pengakuan ini maka perjumpaan-Nya dengan Abraham, Hagar, Musa, Elia serta pergulatan-Nya dengan Yakub adalah peristiwa yang real. Maka, dapat disimpulkan bahwa Theophani selalu menunjuk penggenapannya kepada Allah yang berinkarnasi di tengah-tengah dunia.

2. Masa Inkarnasi
Kata inkarnasi berasal dari bahasa Inggris, yang terdiri dari dua kata: in, artinya di dalam dan carnal, artinya jasmaniah, badaniah. Jadi, inkarnasi diartikan masuk ke dalam jasmani atau daging melalui kelahiran-Nya dari perawan Maria. Kelahiran-Nya ini diawali oleh pemberitaan malaikat, “Jangan takut, hai Maria, sebab engkau beroleh kasih karunia di hadapan Allah” (Luk 1:30). Inkarnasi Yesus ini merupakan pengajaran Kristen yang sangat penting. Karena hanya dengan memahami kelahiran supranatural-Nya maka seluruh kepribadian, pekerjaan-Nya, kematian-Nya, kebangkitan-Nya dan kenaikan-Nya ke surga merupakan hal yang mungkin. Atau dengan kata lain, hanya melalui inkarnasi saja Pribadi Kedua dapat memenuhi syarat sebagai Penebus, yang pada satu sisi adalah Allah yang sejati dan pada sisi yang lain adalah manusia yang sejati.
Pada penjelasan keberadaan Yesus pada masa pra-inkarnasi sebenarnya sudah memberitakan kepada kita tentang ke-Allah-an Yesus karena Malaikat Allah dalam PL adalah Yesus dalam PB. Namun pertanyaan yang muncul, apakah Yesus setelah berinkarnasi ke-Allah-an-Nya berhenti atau berkurang? Untuk menjawab hal ini, Alkitab memberikan uraian yang sangat akurat tentang keunikan keberadaan-Nya. Pertama, kedatangan-Nya telah dinubuatkan jauh sebelumnya. Mulai dari janji pertama di taman eden (Kej 3:15) yang disebut “protevengelium” dan seluruh pemberitaan para nabi (Luk 24:44). Ini semua menunjukkan bahwa Yesus yang datang itu adalah Allah yang menyelamatkan manusia. Tak ada satupun nubuatan tentang diri-Nya yang tidak tergenapi kecuali kedatangan-Nya kedua kali. Kedua, Yesus memiliki nama-nama Ilahi: Allah dan Tuhan, untuk menunjukkan bahwa Ia adalah pencipta langit dan bumi dan segala isinya, Mahakuasa dan Pemelihara atas ciptaanNya (Yohanes 1:1-3) dan menunjuk kepada Yahweh dalam Perjanjian Lama. Banyak nama-nama lain yang diberikan kepada-Nya yang menunjukkan bahwa Dia adalah Allah. Yesus berkata bahwa sebelum Abraham jadi, Dia telah ada (Yoh 8:58), ini menunjukkan kekekalanNya. Atau dalam ungkapan-Nya yang terkenal “Aku adalah” dalam Injil Yohanes: roti hidup (6:35), terang dunia (8:12), pintu (10:7), gembala yang baik (10:14), kebangkitan dan hidup (11:25), jalan dan kebenaran dan hidup (14:6), dan pokok anggur yang benar (15:1) yang diidentifikasi sejajar dengan ungkapan dalam Perjanjian Lama Aku Adalah Aku. Dan ungkapan nama Yesus yang sangat kuat adalah Aku adalah Alfa dan Omega (wahyu 1:8) yang menunjukkan keberadaan-Nya yang kekal yang setara dengan Allah. Ketiga, Yesus memiliki sifat-sifat Ilahi: Ia Mahatahu (Mar 2:8; Luk 7:36-50 Yoh 1:47, 4:17-18, 5:42, 6:64, 21:17). Ia Mahakuasa atas kematian, setan, dan alam (Yoh 4:50, 5:8, 9:6; Mat 8:3, 13, 15-16, 9:6,22, 28-30; 12:13; 14:36; 15:30;20:34, Mar 7:35, 8:23-25, Luk 13:13, 14:4, 17:14-19, Luk 7:15, Yoh 11:43, Mat 8:32, 9:33, 12:22, 15:28; 17:18; Luk 13:16, Mat 8:26, 14:19-21; 15;36-39; 21:18-20; Yoh 2:7-8). Ia kekal (Yoh 1:1,8:58; Luk 20:41-44). Ia Mahahadir (Mat 18:20; 28:20). Ia menerima penyembahan (Mat 2:2; 28:9; 28:17).
Gelar Yesus sebagai “Anak Manusia” sudah membuktikan bahwa Dia adalah manusia yang sempurna. Perjanjian Baru dengan jelas sekali mencatat pertumbuhan dan perkembangan Yesus. Yesus mengalami hukum pertumbuhan yang umum (Lukas 2:40). Ia mempunyai kebutuhan seperti manusia biasa: lapar, haus, tidur, dan lain-lain (Matius 4:2; 8:25). Yesus mengalami penderitaan (Ibrani 2:10,18). Dalam belajar dan mengenal kemanusiaan Yesus, harus diingat walaupun Ia adalah manusia sempurna tetapi Ia tidak berdosa seperti kita. Yesus Kristus memiliki kesempurnaan moral dan integritas.

3. Setelah Kenaikan-Nya Ke Surga Sampai Selama-Lamanya
Keadaan Kristus setelah naik ke surga sampai kedatangan-Nya kedua tidaklah dijelaskan oleh Alkitab secara detail. Hal ini berkaitan dengan kenyataan peristiwa kenaikan ke surga sampai kedatangan-Nya kedua merupakan komplemen penting dan kelengkapan kebangkitan. Berbicara dengan kenaikan ke surga sampai kedatangan-Nya kedua merupakan unsur penting dalam memahami keadaan pemuliaan Kristus. Hanya memahami keadaan Kristus yang dimuliakan mulai dari kebangkitan sampai kedatangan-nya dalam kemuliaan, kita bisa mendiskusikan keberadaan-Nya yang tetap sama.
Pembukaan Kisah Para Rasul, Lukas menggambarkan peristiwa kenaikan Yesus ke surga yang disaksikan oleh murid-murid-Nya (Kis 1:9-11). Kenaikan Yesus ke surga dapat diterangkan sebagai peristiwa yang kasat mata sampai awan menutupi-Nya dari pandangan mereka. Menurut Wayne Grudem menjelaskan peristiwa ini sebagai fakta bahwa Yesus memiliki tubuh kebangkitan sebagai tubuh yang hadir pada tempat tertentu pada waktu tertentu . Narasi kenaikan Yesus ke surga ini menunjukkan kepada kita bahwa Ia tetap memiliki dua natur dalam satu pribadi, kecuali bahwa natur itu sekarang berubah menuju kepada kemuliaan surgawi dan dengan sempurna disesuaikan dengan kehidupan sorgawi. Hal yang tak dapat disangkal adalah bahwa kenaikan Yesus Kristus memberikan kebenaran yang tidak dapat diubah tentang peristiwa sejarah tentang kebangkitan Tuhan Yesus dari kematian. Dan juga menunjukkan bahwa Yesus bukanlah berasal dari dunia ini. Hanya yang datang dari surga yang tahu jalan kembali ke surga sehingga kenaikan Yesus ke surga menunjukkan bahwa Ia adalah Allah (Yoh 14:1-14).

Kesimpulan
Yesus Kristus adalah tetap sama, ini merupakan pengakuan iman orang percaya dan sekaligus pemberitaan kepada orang percaya kepada dunia. Ketidakberubahan keberadaan-Nya merupakan keunikan yang menunjukkan bahwa Ia adalah Anak Allah yang diutus sebagai satu-satunya Juruselamat. Oleh sebab itu, setiap orang percaya boleh gagal dalam melaksanakan mandat Allah, gereja boleh mengalami perubahan oleh perubahan zaman, tetapi Kristus yang tetap sama akan tetap tegak karena ke-Allah-an-Nya tidak bergantung pada pengakuan subjektif orang percaya. Maka, panggilan bagi setiap orang yang memahami ketidakberubahan Yesus ini adalah agar kita memikirkan Dia dengan cara yang sama walaupun kita sering mengalami perubahan.

Warisman Harefa, M.Th. (cand) adalah dosen STT SALEM Malang.

Selasa, 03 November 2009

Antikristus Dalam Gereja

Oleh Muriwali Yanto Matalu

Apa dan siapa antikristus itu?
Ketika saya mulai menulis tentang tema ini rasanya berat sekali. Tidak seperti biasa ketika saya menulis, ide-ide bermunculan dengan mudah dan kemudian saya menguji ide-ide itu dengan firman Tuhan, memikirkan dalam-dalam di mana letak kelemahan dan kelebihannya, serta yang terpenting dari semua, bagaimana supremasi Firman ditegakkan dan Kristus dimuliakan dalam tulisan tersebut. Semuanya berjalan dengan lancar, bagaikan butiran peluru yang dimuntahkan dari sebuah senapan mesin. Namun pada saat saya menulis tema tentang antikristus ini, rasanya ada penentangan dengan cara yang cukup halus namun sangat mengganggu dari kuasa kegelapan. Walaupun demikian, saya bersyukur karena gangguan ini membuat saya lebih bersemangat lagi untuk menulis.
Zaman sekarang pembicaraan tentang antikristus sangat banyak diselewengkan, dan pada akhirnya pembicaraan tersebut hanya memunculkan antikristus yang merupakan hasil rekayasa orang-orang yang tidak belajar firman Tuhan secara benar dan teliti. Antikristus, dengan cara yang salah sering dikaitkan dengan orang-orang tertentu, bisnis tertentu, penguasa tertentu, komunitas tertentu dan sebagainya.
Memang benar bahwa mungkin orang, bisnis, penguasa dan komunitas tertentu dalam dirinya memiliki semangat antikristus. Tetapi kita tidak bisa melebih-lebihkan hal itu seakan-akan mereka itulah yang dimaksud dengan antikristus secara keseluruhan seperti yang diajarkan Alkitab.
Kata antikristus hanya disebut oleh Yohanes dalam I Yoh.2:18,22; 4:3; II Yoh. 7. Tidak bisa dihindari bahwa yang disebut sebagai antikristus oleh Alkitab adalah pertama-tama menyangkut semangat perlawanan terhadap Kristus apakah itu berbentuk pengajaran filsafat, politik, teologi, pendidikan dan juga kebudayaan yang melawan Tuhan. Contoh yang paling baik untuk hal ini dapat kita lihat dalam Kejadian 11, di mana orang-orang mau membangun menara yang tingginya sampai ke langit. Mereka mau mencari nama bagi diri mereka. Dalam hal ini, mereka mau menyingkirkan Tuhan dan mau otonomi atas diri sendiri.
Kedua menyangkut seorang pribadi yang merupakan antikristus yang akan datang. I Yoh. 4:2-3, mengatakan: “Demikianlah kita mengenal Roh Allah: setiap roh yang mengaku, bahwa Yesus Kristus telah datang sebagai manusia, berasal dari Allah, dan setiap roh yang tidak mengaku Yesus, tidak berasal dari Allah. Roh itu adalah roh antikristus dan tentang dia telah kamu dengar bahwa ia akan datang dan sekarang ini ia sudah ada dalam dunia.” Dari ayat ini kita bisa menyimpulkan bahwa setiap roh atau semangat yang tidak mengaku Yesus adalah roh antikristus. Namun selanjutnya di ayat tersebut Yohanes mengatakan bahwa ia (antikristus) akan datang dan sekarang sudah ada dalam dunia. Pernyataan Yohanes ini jelas menunjuk kepada suatu pribadi tertentu.

Catatan:
Perlu diingat bahwa ketika menulis surat ini, Yohanes sedang berperang dengan ajaran gnostik. Pemahaman gnostik mengatakan bahwa roh itu baik tetapi materi adalah jahat. Tidak mungkin Allah yang adalah roh dan suci menjadi manusia yang bertubuh (materi), karena materi adalah jahat.

Mengenai kedatangan seorang antikristus pada akhir zaman yang memuncak pada pribadi tertentu, Louis Berkhof mengatakan bahwa ada beberapa alasan mengapa pandangan Alkitab tentang antikristus ini mengacu juga kepada satu pribadi yang akan datang yang merupakan inkarnasi dari segala hal yang jahat. Tiga dari lima alasan Berkhof untuk hal ini adalah sebagai berikut:

1. Penggambaran tentang antikristus dalam Daniel 11 lebih kurang bersifat pribadi dan mungkin berhubungan dengan orang tertentu yang merupakan tipe dari antikristus.
2. Walaupun Yohanes membicarakan tentang banyak antikristus yang sudah hadir, dia juga membicarakan antikristus secara tunggal sebagai seseorang yang akan datang pada masa depan, I Yoh. 2:18.
3. Karena Kristus adalah satu pribadi, maka adalah alamiah untuk memikirkan bahwa antikristus juga adalah satu pribadi.

Dibalik semua semangat atau roh yang melawan Tuhan dan dibalik pribadi antikristus yang akan datang, yakni satu pribadi yang merupakan kepenuhan dari segala hal yang jahat dan cemar, berdirilah Iblis atau Setan, bapa segala pendusta.

Antikristus sebagai semangat atau roh yang melawan Tuhan dalam gereja
Tulisan ini akan mencoba membuka kedok atau penyamaran antikristus sebagai sebuah semangat yang merusak. Semangat ini secara tidak disadari oleh banyak orang Kristen sudah masuk dan mempengaruhi gereja. Kita harus ingat bahwa antikristus bisa datang dari luar gereja. Namun Yohanes berkata kepada kita bahwa antikristus juga sedang bersama-sama dengan kita dalam gereja, (baca dengan teliti I Yoh. 2:19).
Sekarang kita akan membuka satu persatu semangat dan roh apa saja yang merupakan perlawanan terhadap Tuhan. Pertama saya akan membahas tentang semangat dan pemikiran tertentu yang menentang Tuhan lalu saya akan langsung menjelaskan tentang bagaimana hal itu mempengaruhi gereja.

Humanisme
Humanisme sebagai gerakan bangkit pada abad ke 14, karena manusia pada zaman itu sudah bosan ditekan oleh otoritas gereja dan rohaniwan khususnya gereja Katholik Roma. H. Berkhof memberikan pendapatnya tentang kebangkitan Humanisme sebagai berikut: Dengan demikian, berkembanglah suatu pandangan hidup yang baru, yang antara lain ternyata dalam syair-syair pujangga Petrarca (1304-1374); Sebenarnya manusia tak usah mengikuti kuasa apapun di atasnya; kaidah dan pusat hidup manusia adalah pribadinya sendiri.
Humanisme yang bangkit pada zaman itu juga dikenal sebagai renaissance (kelahiran kembali), yaitu kelahiran kembali budaya-budaya kuno yakni budaya Yunani dan Romawi, yang merupakan hasil dari keunggulan manusia. Humanisme menjadikan manusia pusat dari segala sesuatu, dan jika manusia adalah pusat dari segala sesuatu, maka yang terpenting dari manusia adalah akal budinya. Penekanan akan pentingnya rasio (akal budi) oleh humanisme, dengan sendirinya melahirkan filsafat Modern dan abad pencerahan (enlightenment) pada abad 18 yang menekankan supremasi rasio, serta juga melahirkan naturalisme dan evolusionisme. Filsafat Modern bersama-sama dengan Naturalisme dan Evolusionisme, menjadi pemicu timbulnya teologi Liberal dalam gereja.
Inti dari humanisme adalah manusia. Istilah humanisme berasal dari kata human yang artinya manusia. Filsafat humanisme adalah filsafat yang mengagungkan manusia dan menjadikan manusia otonomi atas dirinya dan tidak memerlukan Allah. Manusia adalah pusat dari segala sesuatu dan tidak ada allah lain selain dari manusia, demikianlah pengakuan humanisme. Walaupun ada orang tertentu yang disebut sebagai humanis Kristen seperti Desiderius Erasmus dari Belanda yang hidup sejaman dengan Martin Luther, namun itu hanya merupakan sebuah penentangan yang halus terhadap otoritas Allah. Alkitab sama sekali tidak memberikan tempat untuk membenarkan humanisme walaupun itu dibalut dengan kata Kristen. Alkitab berkata bahwa Allah adalah pusat dari segala ciptaan dan tujuan segala sesuatu diciptakan adalah untuk memuliakan Allah.
Budaya humanisme bisa kita lihat dengan jelas pada orang-orang atau masyarakat yang menolak Tuhan dan hidup berpusat kepada diri. Segala-sesuatu adalah untuk diri dan kenikmatan serta kepuasan diri. Jika hidup kita berpusat pada kekayaan diri, maka kita adalah humanis. Jika kita memusatkan kehidupan perkawinan kita untuk kepuasan diri maka kita juga adalah humanis. Jika tujuan kita bekerja, menjalin persahabatan, terlibat dalam organisasi dan sebagainya adalah untuk diri sendiri, maka pada hakekatnya kita adalah seorang humanis.
Berapa banyak gereja yang bersifat humanis sekarang ini? Bukankah kebaktian diatur agar kita senang dan nyaman? Bukankah kita tidak mau mendengarkan khotbah yang keras dan menegur dosa? Bukankah banyak hamba Tuhan yang cari uang dan fasilitas untuk diri ketika melayani? Bukankah cara kita mengatur ibadah di gereja dibuat sedemikian rupa agar kita merasa dipuaskan emosinya? Pada dasarnya semua ini adalah semangat humanisme yang menyingkirkan Tuhan.
Saya melihat begitu banyak gereja yang senang bikin KKR dengan mengundang artis terkenal agar menarik banyak orang untuk datang dan mereka boleh disenangkan. Mengapa kalau bikin KKR harus undang artis terkenal? Apakah Yesus kurang terkenal? Apakah Yesus tidak mampu menarik massa? Inilah semangat humanisme gereja sekarang. Kita patut menangis untuk hal ini. Gereja yang menggeser popularitas Kristus dan menggantinya dengan artis terkenal atau apapun, pada hakekatnya gereja tersebut sudah memiliki semangat antikristus.

Panteisme
Panteisme merupakan jantung dari Gerakan Zaman Baru (New Age Movement). Inti dari panteisme adalah pemahaman bahwa segala sesuatu adalah allah. Alam semesta adalah allah dan manusia juga adalah allah. Panteisme sudah muncul di dalam agama-agama dan aliran-aliran kepercayaan Timur dan jika ditelusuri dalam Alkitab maka kita mendapatkan akarnya dalam taman Eden, di mana manusia ingin menjadi Allah.
Gerakan Zaman Baru yang mulai muncul pada tahun 1960-an mempercayai bahwa kita sudah memasuki zaman baru yakni zaman Aquarius di mana pada zaman ini dunia akan menjadi lebih baik, perdamaian sejati akan terwujud dan budaya manusia akan mencapai puncak suksesnya. Keyakinan ini sendiri pada dirinya bertentangan dengan ajaran Alkitab yang menubuatkan bahwa pada akhir zaman dunia akan bertambah kacau.
Kemunculan GZB ditandai dengan bangkitnya guru-guru dari Timur terutama Dari India dan China yang sejak tahun 1960-an membanjiri Amerika. Mereka mempropagandakan ketenangan batin dan kesehatan tubuh melalui yoga, kundalini, senam-senam kesehatan seperti waitankung dan tai chi, pengobatan alternatif semacam tusuk jarum dan sebagainya.
Panteisme yang merupakan jantung GZB percaya bahwa alam semesta adalah allah makro dan manusia adalah allah mikro. Manusia sebagai allah mikro harus menyelaraskan diri dengan alam semesta sebagai allah makro. Jika terjadi disharmoni antara manusia dengan alam, maka manusia akan mengalami ketidakseimbangan yang mengakibatkan berbagai macam penyakit. Konsep ini secara khusus ada dalam Taoisme di mana manusia dituntut untuk selalu selaras dengan alam. Maka timbullah pemahaman tentang yin dan yang yakni aspek positif dan negatif dalam alam semesta ini, termasuk dalam diri manusia. Jika kedua aspek ini mengalami disharmoni atau ketidakseimbangan maka timbullah bencana dan berbagai macam penyakit.
Gerakan Zaman Baru juga mempercayai datangnya seorang tokoh mistik masa depan yang menjadi semacam mesias yang mempersatukan seluruh dunia di bawah satu pemerintahan politik, ekonomi (satu mata uang) dan budaya. Bandingkan juga keyakinan ini dengan keyakinan akan bangkitnya tokoh Ratu Adil dalam kebatinan dan aliran kepercayaan. Bisa jadi tokoh mesias GZB pada masa yang akan datang, jika dia memang benar-benar muncul, mungkin dialah si antikristus masa depan yang memuncak pada satu pribadi tertentu seperti analisis Louis Berkhof dan yang disebut oleh Paulus dalam II Tes. 2:8-10, sebagai si pendurhaka.
Gerakan Zaman Baru juga memiliki penekanan yang kuat terhadap spiritualitas yang melampau agama. Jadi, menurut GZB, tidak penting apapun agama saudara, karena yang penting adalah saudara memiliki spiritualitas yang tinggi, mendapatkan ketenangan batin dan selanjutnya berakibat kepada kesehatan tubuh. Dan lagi-lagi menurut mereka, ini sangat mungkin dicapai oleh manusia, karena pada dasarnya manusia bersifat ilahi atau manusia adalah allah. Nyata sekali bahwa semangat semacam ini menyingkirkan Yesus Kristus dari kekristenan.
Pengaruh panteisme dalam gereja zaman ini sangat nyata dalam ajaran teologi kemakmuran. Penekanan teologi kemakmuran adalah kesuksesan hidup, kemakmuran dan kesehatan di dunia sekarang ini. Tokoh-tokoh positive thinking seperti Norman Vincent Peale dan Robert Schuller atau tokoh-tokoh kesembuhan semacam Kenneth Hagin, Benny Hinn dan tokoh kesuksesan seperti Yonggi Cho dalam gerakan Kahrismatik memberi tekanan pada pelayanan mereka bagi hidup di dunia sekarang ini. Jika yang dipropagandakan oleh orang-orang semacam itu adalah kesehatan tubuh, keuangan yang melimpah dan kesuksesan dalam dunia ini, maka perjuangan mereka tidak berbeda dengan apa yang diperjuangkan oleh Gerakan Zaman Baru. Semangat mereka sangat berbeda dengan semangat hamba Tuhan sejati semacam Yohanes Pembaptis, Luther, Calvin, George Whitefield, John Sung atau pun Watcman Nee, yang rela menderita untuk melayani Tuhan. Teologi sukses atau teologi kemakmuran pada dasarnya adalah teologi mamon dan dengan sendirinya bersifat antikristus.
Bukan saja dalam hal teologi kemakmuran, pengaruh panteisme ini secara tidak sadar juga sudah merusak banyak gereja, di mana gereja tidak lagi mengkhotbahkan Pribadi Kristus dan Allah Tritunggal, tetapi beralih kepada khotbah-khotbah tentang potensi dan iman manusia yang mampu menghasilkan sesuatu yang dashyat. Khotbah yang menekankan kehebatan dan kekuatan iman serta potensi manusia pada dasarnya bersifat panteistis dan dengan sendirinya adalah antikristus. Pernahkah saudara mendengar seorang pendeta berkoar-koar, “Dengan iman semuanya beres!” “Harus beriman, dan yakinlah bahwa semuanya itu akan jadi.” Inilah kalimat-kalimat dari tokoh-tokoh kesembuhan, semacam Benny Hinn dan Kenneth Hagin. Bukankah iman adalah anugerah Tuhan? Dan dalam kalimat-kalimat seperti itu dimanakah tempat Yesus Kristus sebagai pencipta dan pemelihara iman kita?
Filsafat Modern dan teologi Liberal
Filsafat modern memuliakan rasio melebihi segalanya. Walaupun modernisme menekankan kebenaran yang bersifat obyektif dan mutlak , tetapi Modernisme menolak segala sesuatu yang tidak bisa dibuktikan dengan akal dan juga menolak keberadaan dunia supranatural (Allah dan dunia roh). Naturalisme yang merupakan hasil dari filsafat Modern melihat alam semesta dalam sistem tertutup. Pemahaman ini mengatakan bahwa selain alam semesta, tidak ada sesuatu yang lain, seperti yang sering digembar-gemborkan gereja mengenai yang transenden yakni Allah atau dunia supranatural (dunia roh). Atau semacam dunia ide dalam filasafat Plato serta konsep mengenai surga dan neraka dalam agama-agama. Kesimpulannya adalah, dunia ini adalah dunia yang ada dengan sendirinya dan selain alam semesta ini tidak ada sesuatu yang lain. Segala masalah dalam alam semesta ada jawabannya pada alam semesta sendiri. Segala misteri dapat ditemukan rahasianya dalam alam semesta sendiri. Konsep ini jelas menolak Allah yang transenden serta menolak Dia sebagai Pencipta dan Pemelihara dunia ini.
Karena melihat bahwa ajaran kekristenan sulit dipertanggungjawabkan secara rasional (menurut orang-orang Modernisme dan Naturalisme), maka seseorang yang bernama Schleirmacher mengatakan bahwa masalah agama bukanlah masalah pertanggungjawaban secara rasional tetapi adalah masalah perasaan. Agama adalah perasaan kebergantungan yang mutlak (feeling of absolute dependence) kepada Allah. Schleirmacher kemudian dikenal sebagai bapak teologi Liberal.

Catatan:
Schleirmacher di sini jelas salah. Allah yang menciptakan manusia sebagai makhluk rasional dan logis, pada diri-Nya adalah Allah yang rasional dan logis. Tidak ada kontradiksi secara logika dalam diri Allah. Karena Allah adalah rasional dan logis, maka dia menciptakan alam semesta dan manusia juga secara rasional dan logis. Seluruh pengajaran Alkitab adalah rasional dan logis, dan jika saja manusia tidak memiliki akal yang terbatas maka seluruh firman yang kita baca dalam Alkitab dapat dipahami seluruhnya. Mengapa ada bagian-bagian tertentu yang kita rasa tidak masuk akal, sulit dimengerti atau bahkan kelihatan berkontradiksi? Karena akal kita terbatas untuk mengerti hal-hal tersebut. Akal kita diciptakan dan oleh karenanya memiliki kapasitas terbatas serta sudah dipolusi oleh dosa.

Berdasarkan presaposisi Modernisme dan Naturalisme, maka tokoh-tokoh higher criticism dan teolog Liberal Jerman seperti Wilhelm Herrmann dan Adolf von Harnack mengeritik Alkitab. Tak kalah kelirunya, demi membela iman Kristen dari pengaruh teologi Liberal tetapi tetap menggunakan presaposisi Modernisme, Karl Barth memunculkan apa yang dikenal sebagai teologi Neo-Ortodoks. Tetapi, karena menggunakan presaposisi Liberal, maka dia juga jatuh dalam penyimpangan yang sama. Teologinya bersifat sangat subyektif. Sebagai contoh, pandangannya tentang Alkitab. Menurut Barth Alkitab bukanlah Firman Allah, tetapi merupakan sebuah dokumen hasil tulisan orang-orang yang sudah memiliki pengalaman iman dengan Tuhan pada masa lalu. Namun Alkitab bisa menjadi Firman Allah jika kita mengalami encountering with God (perjumpaan dengan Allah) secara pribadi pada saat kita membacanya. Berbeda dengan pemahaman Barth, ajaran reformasi melihat Alkitab sebagai firman Tuhan secara obyektif. Alkitab adalah firman Allah karena memang Alkitab adalah firman Allah dan tidak bergantung kepada manusia apakah dia encountering with God pada saat membacanya atau tidak.
Pada dasarnya teologi Liberal maupun teologi Neo-Ortodoks atau pun teologi kontemporer lainnya adalah penolakan terhadap Allah dan firman-Nya, Alkitab. Lihat saja, betapa rusaknya gereja-gereja oleh teologi Liberal, di mana tidak ada lagi mimbar yang berkobar-kobar memberitakan Firman, persekutuan menjadi dingin, tidak adanya pemberitaan Injil secara verbal dan sebagainya. Mengapa gereja-gereja di Eropa sekarang banyak yang kosong, di antaranya ada yang dijadikan museum atau tempat hiburan? Inilah buah dari teologi Liberal dan teologi yang semacamnya. Pada dasarnya teologi dan semangat seperti ini adalah bersifat antikristus.

Filsafat Postmodern & budaya antikemapanan
Jika filsafat Modern memahami bahwa kebenaran bersifat mutlak dan obyektif, maka filsafat Postmodern memahami kebenaran sebagai bersifat subyektif, relatif dan parsial. Jika Modernisme mencari integrasi (kesatuan) dari segala hal, maka Postmodern boleh didefinisikan sebagai disintegrasi bagi segala hal.

Catatan:
Istilah universitas yang muncul pada zaman Modern sangat mencerminkan semangat kesatuan dari Modernisme. Kata universitas (university) berasal dari kata unity (kesatuan) dan diversity (keragaman). Artinya, di dalam disiplin ilmu yang beragam dalam universitas, tujuannya adalah satu yakni mencari kebenaran yang bersifat tunggal, obyektif dan mutlak.

Postmodern sangat alergi dengan pemahaman bahwa kebenaran adalah obyektif dan mutlak. Dalam dunia postmodern sekarang, orang Kristen sulit untuk memberitakan bahwa Yesus adalah satu-satunya jalan dan kebenaran dan hidup.
Jika kita teliti, maka semangat postmodern ini berakar pada filsafat eksistensialisme yang menekankan keberadaan dan pergumulan manusia dalam dunia ini. Schleirmacher (yang sudah disebut di atas), Kierkegaard dan Nietzsche, boleh dikatakan sebagai peletak fondasi Postmodernisme. Nietzsche secara khusus boleh kita sebut sebagai bapak postmodernisme. Filsafat eksistensial, sama seperti Modernisme, bersifat humanis. Karena berakar pada filsafat eksistensialisme, maka Postmodernisme sangat subyektif dan berpusat pada manusia.
Postmodern bersifat sangat anti tatanan dan kemapanan. Segala sesuatu dilakukan berdasarkan suasana hati atau mood. Ironis sekali bahwa Michel Foucault, seorang filsuf Postmodern, hidup secara demikian dan akhirnya mengalami nasib yang mengenaskan. Dia yang adalah seorang homoseks, memiliki hidup seksual yang bebas dan akhirnya menderita virus HIV-AIDS. Dia mati oleh penyakit tersebut. Lebih mengenaskan lagi, Nietzche (yang boleh dikatakan sebagai guru dari Foucault), memiliki kehidupan seksual yang liar (konon katanya dia bisa bermain dengan pelacur beberapa kali dalam sehari), pada duabelas tahun terakhir dari hidupnya menjadi gila oleh karena penyakit syphilis yang sudah naik ke otaknya. Memang Nietzsche hidup sangat konsisten dengan filsafatnya, di mana dia meneriakkan bahwa Allah, moralitas dan kekristenan sudah mati. Yang tersisa hanya manusia yang memiliki semangat the will to power (kehendak untuk berkuasa), dan pada gilirannya akan memunculkan superman. Bukannya menjadi superman, Nietzsche malah mati dalam penderitaan.
Jika kita teliti, banyak gereja sekarang sedang menuju ke kiblat yang sama dengan Postmodernisme. Kebaktian Minggu misalnya, tidak boleh memiliki bentuk yang mapan, karena kalau terlalu mapan, rasanya terlalu kaku dan tidak hidup. Ibadah harus bebas dan harus spontan. Liturgi menghambat pekerjaan Roh Kudus, begitulah pendapat mereka. Bodoh sekali! Mereka menghina kemapanan dengan mengatakan bahwa kebaktian harus bebas dan spontan. Bukankah jika mereka secara konsisten mengadakan kebaktian tanpa liturgi, serta bersifat bebas dan spontan dengan sendirinya itu merupakan hal yang mapan? Mereka mengeritik kemapanan sedang mereka sendiri mapan di dalam melakukan ibadah yang spontan dan bebas. Atau, mereka tanpa sadar, secara mapan setiap hari Minggu konsisten untuk beribadah, walaupun menolak ibadah yang mapan. Ini adalah bentuk penipuan.
Siapapun mereka yang menolak kemapanan, tanpa sadar sedang menggunakan kemapanan untuk menolak kemapanan. Seseorang yang berkata, “Aku tidak suka dengan hal-hal yang mapan,” sebenarnya sedang menggunakan kata-kata yang mapan dan tertib untuk mengatakan bahwa dia tidak suka hal-hal yang mapan. Mereka tidak menyukai yang mapan, tetapi diungkapkan dengan kata-kata yang mapan. Aneh juga!
Sangat sulit bagi kita untuk mengkomunikasikan prinsip-prinsip kebenaran yang bersifat mutlak dan transenden dalam gereja yang anti kemapanan. Jika orang Kristen sudah mengatakan bahwa pengalaman rohani menjadi standar, maka kekacauan akan menjadi norma dan jika kekacauan menjadi norma maka kekristenan dengan sendirinya akan hancur. Semangat anti kebenaran mutlak dan obyektif serta anti tatanan dan kemapanan pada dasarnya bersifat antikristus.